Keseimbangan ada dan tiada
Barusan ngobrol dengan orang dapur sebelah. Ngalor ngidul. Bicara politik, bicara, ekonomi, bicara cinta, bicara hidup.
Apa yang menyebabkan sekian banyak anggota DPR, dengan segala apa yang mereka miliki masih saya tergiur untuk korupsi?
Apa yang menyebabkan seorang tokoh publik ataupun tokoh politik mengeluarkan berbagai upaya agar dia bisa mendapatkan posisi yang dia inginkan?
Apa yang membuat kita hidup dan penuh warna? Lalu apa yang membuat kita mati dan sengsara? Brian May atau d’Masiv pernah mengungkapnya dalam lagu. Gibran mengungkapnya dalam sajak dan puisinya.
Benarkah para pemimpin bekerja untuk kepentingan orang yang dia pimpin?
Benarkah ketika seseorang mencintai sesuatu sepenuh hati adalah untuk orang yang cintai?
Sangat tipis batasnya antara ada dan tiada. Siapa yang tahu bahwa ketika seorang Agus Condro mengembalikan dana yang katanya dia terima dari Miranda Gulton didasari atas kesadaran bahwa yang dia lakukan itu tidak benar? Jika memang tidak benar kenapa baru sekarang dia terima? Hanya Agus Condro dan Tuhan mungkin yang tahu.
Benarkah ketika seorang maling tertangkap dan ketika ditanya dia melakukannya atas desakan hidup? Atau sebenarnya karena dia malas berusaha dan ingin cara singkat lalu menyalahkan hidup yang sulit? Siapakah yang tahu?
Ketika cinta itu menghadirkan keinginan yang amat sangat untuk memiliki, siapakah sebenarnya yang kita cintai? Dia atau diri kita sendiri? Bukankah ketika kita memiliki sesuatu, itu adalah untuk kita sendiri? Apa bedanya Ryan yang mungkin atas rasa cintanya yang mendalam membunuh sekian banyak orang dengan para pencinta yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk orang yang dia cintai?
Bagaimana membedakan seorang pelacur yang memilih melacurkan dirinya karena harus menghidupi keluarganya dengan pelacur yang memang maniak sex dan menyadari menjadi pelacur adalah cara gampang untuk mendapatkan uang dan enak?
Tiba-tiba diakhir pemikiran saya berhenti pada sebuah pertanyaan.
Sebenarnya apa yang aku miliki? Harta? Posisi? Pasangan? Istri? Anak? Kekuasaan? Benda? Cinta?.
Dan saya sampai pada sebuah kesimpulan : Saya tidak memiliki apa-apa, bahkan tidak memiliki diri saya sendiri. Bangkai ini toh juga akan habis, dan jiwa ini akan kembali ketempat-Nya. I just have nothing.
Jika memang begitu, untuk apa kita hidup? Untuk apa kita berusaha, bekerja? Untuk apa kita berhubungan, beranak pinak?
Menjalankan peran, menjalankan amanah. Menjalani hidup, hidup yang tidak pernah kita pilih. Namun kita punya pilihan untuk bagaimana menjalaninya. Kita bisa memilih untuk ada atau tiada, memilih sangat kaya atau sangat miskin, memilih sangat berkuasa dan sangat tidak berkuasa, memilih menjadi malaikat atau setan. Namun kita tetaplah manusia. Yang berada di domain “antara” itu semua. Keseimbangan dalam memposisikan diri adalah kunci agar kita tetap menjadi manusia, bahkan menjadi manusia yang seutuhnya.
Popularity: 2% [?]
ya ya ya… dan untuk menjaga keseimbangan itu, makanya banyak para kyai yang duduk di senayan itu melakukan korupsi plus hobi pesan “baju putih” kekeke atas nama keseimbangan kok jadi sebuah apologia ya?
halah, jadi paradoks yang membodohkan….
besok sambil menunggu buka, kita ngopi dimana bro?
#epat : itu bukan keseimbangan pe. Itu manipulasi atas keseimbangan :-”. ngopi? anytime!
tape: bukankah paradoks itu terkadang jadi terlihat bodoh. sebab gak mau memilih benar atau salah. seneng’e sing ambang-ambang taek, alias ndek tengah tengah terus. hahahaha…
#dudi …
Dud … lha wong jowo iku sakjane pengamal hukum relativitas paling ndisikan …
Kanan-kiri iku kan relativ …. artinya “tengah” pun relativ.
Kanan mu durung tentu kanan ku … kirimu juga ..
So “tengah” mu mungkin saja “kanan” ku.
yuk ah.
-bino-