Ramadhan

Edo on September 3rd, 2008

Banyak nama atas bulan yang tengah dijalani oleh hampir seluruh umat muslim di seluruh penjuru dunia. Nama-nama itu menunjukkan betapa bulan ini sangat spesial.

Banyak hal  yang dilakukan oleh banyak orang dalam menyambut, dan menjalani bulan ini. Beberapa diantaranya bahkan telah menjadi budaya yang menyatu dalam kehidupan baik pribadi, sosial, bermasyarakat, bahkan dalam urusan pekerjaan.

Saya percaya, pemaknaan yang benar dan tepat mengenai bulan ini akan memberikan value yang luar biasa tentang bulan ini. Tuhan tidak akan sembarangan memberikan nilai lebih terhadap bulan Ramadhan. Ramadhan telah diberi label berbeda atas bulan lainnya. Dalam pikiran sederhana saya, tentu Tuhan punya maksud atas itu. Jika memang ini adalah bulan spesial, tentu saja diharapkan kitapun menaknainya secara special pula, dan memberikan manfaat yang special pula. Atas berbagai perspektif, diseluruh lini kehidupan kita.

Saya terus terang kurang setuju jika bulan ini hanya dimaknai dengan urusan vertikal kita dengan Tuhan. Perspektif ini dimata saya hanya semakin memperjelas, bahwa makna ibadah dimata kita hanyalah berkaitan dengan rukun iman dan rukun islam. Artinya kita tidak menganggap aktifitas lain sebagai ibadah. Berarti kita menganggap belajar, bekerja, mencari nafkah, bersilaturrahmi bukanlah ibadah. Ibadah itu hanyalah  sholat, ngaji, bersedekah, dan sebagainya. Artinya kita tidak menjalani berbagai aktifitas kita “lillahi ta’ala”. Artinya selama ini, di 11 bulan lainnya, kita beraktifitas bukan untuk sang Khaliq. Saya justru menganggap, bulan ini adalah bulan dimana seluruh lini aktifitas kita menjadi lebih baik : ya hubungan dengan Tuhan, dengan masyarakat, dan tentu saja harus dimulai dengan perbaikan atas individu kita.

Dulu saya pernah menulis, bahwa tidak seharusnya bulan ramadhan menyebabkan kinerja kita menurun. Saya tetap pada pendirian ini. Yang justru perlu kita pertegas adalah definisi dari kinerja itu sendiri. Jika kinerja itu “divalue” kan dengan jam kerja yang lebih tinggi, atas target yang lebih tinggi, dan berbagai macam hal yang sifatnya kapitalisasi atas aktifitas kita, maka yang salah adalah definisi kita atas kinerja itu sendiri.

Semalam, saya berdiskusi dengan kakak-kakak saya tentang banyak hal. Salah satu temanya adalah tentang “rahasia tangan-tangan Tuhan”. Betapa Tuhan memiliki cara-cara yang “out of our imagination“. Tiba-tiba saya ingat obrolan rekan saya agus tentang “tuma’ninah”. Yang salah satu inside yang saya terima adalah, ada masanya ketika “melakukan” atau “tidak melakukan” memberikan impact yang sama atas izin-Nya. Bahkan bisa jadi, tidak melakukan sesuatu memberikan efek yang lebih baik. Hari ini saya merenungkan kembali obrolan itu. Apa iya?

Saya tidak mencoba untuk menerka bagaimana Tuhan menjalankan “peran-Nya”. Tapi saya fikir, pengertian “tidak melakukan” itupun bukan berarti lalu bahwa Tuhan “menjulurkan” hidayah-Nya dengan begitu saja. Tiba-tiba saja saya berfikir, hal itu bisa terjadi jika memang secara kuantitas dan kualitas kita mengalami peningkatan. Itu adalah “hadiah” dari Tuhan atas keyakinan dan usaha yang telah kita lakukan sebelumnya. Dan itu juga dipengaruhi oleh bagaimana kita memaknai “tuma’ninah” itu. Ini mungkin seperti ketika 2 tahun lalu saya ingin sekali memiliki mobil. Saya bekerja keras untuk itu. Tapi ternyata, sampai akhir tahun saya belum memiliki kemampuan untuk itu. Kecewakah saya? Ya. Tapi saya menganggap, itu salah satu bentuk kasih sayang Tuhan pada saya. Artinya saya memang belum pantas memilikinya. Karena bisa jadi ketika saya memilikinya, saya akan sombong, saya bisa jadi akan tambah nakal karena bisa klayapan dengan bebas.

Introspeksi. Berfikir kedalam. Saya tiba-tiba berfikir bahwa sebenarnya masa “berhenti sejenak” itu bukanlah area yang “benar-benar berhenti dan tidak berbuat apa-apa”. Masa “berhenti sejenak” itu bisa saja adalah area “beraktifitas pasif” dalam rangka melakukan normalisasi atas carut marutnya energi kita yang membuat kita tidak lagi “on the track”. Ber henti sejenak memang perlu kita lakukan, untuk menarik napas, merenung dan berfikir secara alamiah jauh dibawah alam sadar kita, dan membiarkan energi baik itu menuntun kita, dan Tuhan menunjukkan jalan-Nya.

So, sampai saat ini Ramadhan dimata saya tetap merupakan area untuk meningkatkan berbagai hal tanpa kecuali, dengan tidak terjebak pada makna-makna dangkal dari peningkatan itu sendiri. Bahwa peningkatan itu tidak hanya berupa kuantitas, tapi juga kualitas. Tidak ada gunanya misalnya, capital kita meningkat dibulan ini tapi kualitas kita memburuk. Tidak lucu kan, karena dengan alasan ingin berbagi dengan anak yatim piatu tapi atas alasan itu lalu kita mencuri atau korupsi?

Ini adalah bulan perbaikan. Bulan peningkatan. Secara utuh.

Selamat berpuasa..

Popularity: 4% [?]

9 Responses to “Ramadhan”

  1. sembahyang do… mosok vitri ae sing dikongkon semabhyang, koen asik merenung.

  2. awakmu sisan ndi. satu jarimu menuding ke edo, sementara empat jarimu ke tubuh sendiri ndi.

    aku dadi wasit ae wes antara awakmu ambek edo.

  3. aku ga tau ngongkon vitri sembahyang kok dud…

  4. gak melok - melok, dadi penonton ae wes. Sing menang mungsuh aku :D

  5. iki dudi ambe wandi durung puas tha eyel eyelane ndek YM, kok isih dilanjutke nang lahan e wong liyo barang….

    opo di gawekno gelanggang pisan tha?

  6. #tjokro : jar no tha kro. mereka memang punya cara yang untuk untuk menunjukkan kasih sayang. aku iklas2 wae kok..

  7. orip seng koyok opo maneh yo do seng gak ikhlas ngelakonine? hehehe

  8. #wandi. tapi awakmu dikongkon rinda sembahyang bolak balik yo ndi? =))

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ramadhan Kali Ini | azharoo.com

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>