sudut pandang

Edo on September 7th, 2008

Beberapa bulan yang lalu, saya diberi blog link oleh seorang teman. Saya pun langsung membuka, dan membacanya. Ketika saya selesai membacanya, i just can say, i got a new favorite blog. Then, sayapun memasukkannya dalam blog-list favorit saya, dan mengikuti tulisan-tulisannya. Blog itu milik Dewi Lestari.

Diluar inside dan pemahaman yang saya peroleh (baca : belajar) dari content tulisannya (silahkan baca sendiri di blog yang bersangkutan), saya mendapatkan beberapa hal pelajari. Saya belajar tentang bagaimana seorang Dewi Lestari mengupas dan mengkomunikasikan sesuatu yang menurut saya sejak awal saya membacanya akan mendapatkan kontroversi. Alasan saya sederhana : Buat saya Dewi seorang anomali. Pemahaman-pemahaman yang coba dia sampaikan tidak akan mudah diterima dalam konteks berfikir masyarakat pada umumnya. Point saya ini tidak untuk memberikan pelevelan atas tingkat pemikiran seseorang. Sama sekali bukan. Juga bukan tentang mana yang benar dan mana yang salah. Hanya ingin menyampaikan bahwa menurut saya, pola pikir dan cara memandang sesuatu berbeda dengan mayoritas pada umumnya. Seperti umat beragama non muslim yang minoritas di negeri ini.

Saya merasakan betapa tidak mudah untuk mengkomunikasikan isi pikiran, prinsip-prinsip serta perspektif saya akan sesuatu.   Mencoba untuk menyamakan “frekuensi”. Sehingga saya bisa berkomunikasi pada “backbone” yang sama dan pesan yang ingin disampaikan diterima dengan baik esensi nya. Apalagi jika yang ingin disampaikan adalah esensi, bukan sekedar informasi belaka. Itu yang saya coba pelajari dari cara Dewi menyampaikan pesannya. Dia seorang penulis terkenal. The Messanger. Penyampai pesan. Karya-karyanya luar biasa. Saya berfikir akan bisa belajar padanya, dan dari para komentatornya tentu saja. Saya mencoba melihat dari luar medan pertempuran, mencoba untuk obyektif. Membayangkan saya diposisi Dewi dan melihat bagaimana orang menyikapi, lalu berpindah ke sisi si pembaca dan bagaimana saya akan meyikapi.

Dimata saya, peran penyampai pesan saat ini sangat penting. Ini era informasi, kata banyak orang. Media menjadi lahan basah dan sangat harum. Tumbuh mekar layaknya taman bunga dimusim semi. Penyampai informasi tidak lagi didominasi oleh jurnalis semata. Orang bisa mendapatkan informasi apapun dari siapapun. Bahkan saya fikir sekarang kita sudah sampai di masa information garbage. Dan atas itu, dibutuhkan kesadaran dan kepintaran untuk memilih dan memilah sumber yang tepat dan benar. Celakanya, kita masih sangat dipengaruhi oleh patron “siapa yang menyampaikan” dan “seberapa menarik dan menyenangkan informasi yang disampaikan” untuk kita. Disini, efek popularitas menjadi penting. Makanya, saya tidak kaget ketika infotainment menjadi marak, branding menjadi issue penting, mulai dari politikus sampai kiai mencoba untuk populis. Dan yang lebih celakanya lagi, proses branding lebih menjadi perhatian daripada intinya. Jika saya mengambil analogi dari sebuah proses produksi, fokus dan energi untuk melakukan branding jauh lebih besar daripada fokus dan energi yang digunakan untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Cara mempengaruhi orang lebih diperhatikan daripada menambah wawasan dan isi kepala. Jadilah banyak pesan-pesan branding yang muncul di berbagai media menjadi kehilangan nyawa dan tidak mencerdaskan (bahasa yang cukup baik daripada saya bilang pembodohan bukan?).

Kembali ke tema awal.

Dari tulisan pertamanya, saya mencoba untuk menangkap pesan yang disampaikan Dewi. Dalam pemahaman saya  perspektif Dewi adalah hasil sebuah hasil pencarian, proses mengalami yang menghasilkan pemahaman yang luar biasa. Banyak sekali esensi yang bisa saya tangkap. Dewi menyampaikannya dengan lugas menurut saya. Uniknya, ketika saya membaca comment-comment yang masuk, saya merasa pesan yang ingin disampaikan dewi tidak sepenuhnya sampai.

Well, saat itu saya hanya bisa merenung. Seorang penulis sekelas Dewi bahkan  tidak mudah untuk menyampaikan “pesan”nya.

Dan di tulisan terakhir tentang “Kacamata“, Dewi menjawab pertanyaan saya tentang munculnya berbagai perspektif yang timbul dari pembaca tentang penjelasannya. Kesimpulan terbaik yang mayoritas timbulpun masih sebatas menghargai dan menerima perbedaan sebagai sebuah hidayah dan kekayaan wacana (even Dewi menganggap mayoritas pengunjung blog nya memiliki tingkat intelektualitas tertentu. Btw, darimana Dewi bisa dapat penilaian itu yah?).  Dan ternyata rata-rata kita memang punya kecenderungan untuk melihat dari kacamata kita sendiri. Sayapun setuju pada kesimpulan bahwa kita memang tidak bisa merubah orang lain, tanpa orang tersebut memiliki kesadaran untuk berubah. Argumentasi sejelas apapun tidak cukup untuk membuat orang menerima sebuah kenyataan dan dengan sadar melakukan perubahan.

Kenapa kita seperti itu? Saya mencoba untuk menundukkan hati dan fikiran, mencoba menelaah, mencoba memahami. Sementara ini, saya mendapatkan beberapa point sementara.

Pertama, Kenyamanan. Ada sebuah sifat dasar yang memang membuat kita sulit untuk bergeser dari titik nyaman kebenaran kita. Rasa nyaman adalah candu yang tidak kalah berbahaya daripada rokok dan narkoba. Kesadaran tentang rasa nyaman inilah yang membuat tokoh-tokoh seperti Gede Prama atau Andy F Noya berani mempertaruhkan hidupnya. Rasa nyaman juga menyebabkan kita sulit dan takut menerima perubahan. Takut terhadap sesuatu yang tidak pasti. Takut menghadapi konsekwensi atas pilihan dan takut menghadapi ketidaknyamanan. Padahal, apa yang pasti dalam hidup ini?.

Buat saya salah satu esensi dari kehidupan adalah tumbuh dan berkembang. Dan proses tumbuh dan berkembang itu sebenarnya secara alamiah membuat kita harus berubah. Namun harus hati-hati. Orang yang tumbuh pasti mengalami perubahan. Akan tetapi tidak semua perubahan itu membuat kita tumbuh. So, kunci perubahan itu memang ada di diri kita sendiri. Orang lain hanya bisa memotivasi kita untuk berubah. Tidak lebih.

Kedua adalah Ego dan kepentingan. Sering kita mendengar tentang out of the box. Kita pada prinsipnya tahu bahwa untuk bisa melihat segala sesuatu secara jernih kita harus mau melepas semua kepentingan, perspektif yang pernah ada, pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki dan berada diluar medan pertempuran. Out of the box dimata saya juga berarti kemauan untuk melihat segala sesuatunya dari berbagai sudut paradox kehidupan ini. Keinginan untuk masuk dan menyatu dengan pertempuran yang ada secara utuh. Mencopot kepentingan-kepentingan dan kecenderungan yang kita miliki. Memang tidak mudah untuk bisa seperti ini, apa lagi menyangkut kepentingan diri kita sendiri. Ada egositas pribadi yang tidak mudah untuk dilunakkan. Saya tidak terlalu sepakat dengan statement Dewi bahwa kita sebenarnya tidak peduli tentang kebenaran dan hanya peduli dengan kacamata kita. Saya masih percaya bahwa hakikatnya setiap orang mencari esensi dari kebenaran itu. Namun tingkat kesadaran, konsistensi dan ketekunan seseorang dalam mencari kebenaran mengalami proses yang tidak sama di setiap individu.

Namun saya ingat sebuah tulisan yang saya lupa membacanya dimana. Bahwa perbedaan seorang loser dan winner adalah, ketika menghadapi masalah seorang loser akan bicara “Sepertinya aku bisa menyelesaikannya, tapi sulit”. Sedangkan seorang winner akan bicara “Ini sulit, tapi aku yakin aku bisa menyelesaikan dan menghadapinya”.

Ketiga, ketidakseimbangan antara rasa dan pikiran.  2 komponen ini bukan hanya kunci yang membedakan kita dengan ciptaan-Nya yang lain, tapi 2 komponen tersebut adalah hal penting yang membuat manusia berada dititik tertinggi dari penciptaan Yang Maha Kuasa. Dalam perspektif saya rasa dan pikiran, hati dan otak  harus diposisikan secara seimbang, dan ditempatkan sesuai porsinya. Ketika salah satu menjadi dominan dan/atau tidak diposisikan pada “domain”-nya masing-masing secara proporsional, maka hilanglah potensi kita untuk melihat segala sesuatu secara out of the box.

Keempat, Nilai-nilai yang berlaku. Nilai kebenaran yang banyak kita gunakan adalah nilai kebenaran komunal yang berlaku dimasyarakat. Ditambah dengan budaya tepo seliro, basa basi dan sejenisnya (yang lama-lama mulai sulit membedakannya dengan munafik – cuma kita dan Tuhan yang tahu, apakah kita bertepo seliro atau muna :p ). So, terlepas Dewi mencoba menyampaikan sebuah hasil pemikiran, yang menurut saya pemikiran tersebut hasil sebuah pencarian tentang kebenaran yang hakiki, sebagainya Nabi Ibrahim yang tak berhenti mencari siapa Tuhannya, tapi hal tersebut tidak sama dengan kebenaran komunal yang diyakini oleh masyarakat umum. So, dalam kebenaran komunal itu, Dewi menjadi berada diposisi yang salah. Karena kebenaran yang dipakai adalah hasil kesepakatan nilai-nilai yang dibangun oleh manusia. Kebenaran komunal.

Terakhir, Kesadaran itu sendiri. Kesadaran tentang kebenaran seperti apa yang ingin kita cari. Apakah kebenaran yang membenarkan asumsi kita, kebenaran yang membuat kita merasa nyaman dan tidak gelisah, atau kebenaran yang sebenar-benarnya even kebenaran tersebut membuat kita tidak nyaman. Terus terang, terkadang kita memang lebih suka memilih hidup dalam dunia semu namun menenangkan kita daripada harus mengetahui dan menerima sesuatu yang meskipun jauh di lubuk hati kita dapat menerimanya, tapi kita tidak menginginkannya atas berbagai alasan.

Terlepas dari itu semua, saya setuju bahwa dalam konteks mencari kebenaran yang sesungguhnya, kita harus melepaskan lensa-lensa yang menjadi tabir  dan batas dan menutupi objektifitas kita. Jika tidak, maka hanya kebenaran relatif yang akan kita terima.

Finally, ternyata bahkan menerima perbedaan sebagai hidayah saya fikir tidak cukup. Sebatas menerima perbedaan juga bisa berarti bentuk egositas kita untuk tidak mau melihat dalam perspektif lain, tanpa embel-embel kepentingan. Menerima perbedaan bisa jadi adalah bentuk penolakan kita untuk melepaskan kenyamanan kita atas “lensa” atau “kacamata” yang kita gunakan. Menerima perbedaan juga bisa berarti ketidakmauan kita untuk melihat out of the box. Dibutuhkan sebuah spirit yang jauh lebih besar lagi; Sebuah kesadaran untuk mencari kebenaran yang hakiki.

No winner, no loser. It’s always a zero sum game.

Nice result :) . Tapi saya lebih sefaham dengan Fahd dalam hal ini. Dalam bahasa saya, ini adalah tentang pasrah pada-Nya, lalu berusaha sebaik mungkin.  I’m not doing this life for heaven or hell. Just do it. Lillahita’ala. Gampang? ya jelas ngga lah :p. Yang jelas aku belum. Jauuhhh. Masih takut mati. :-”

5 Responses to “sudut pandang”

  1. kata2 yang diukir dee emang keren banget,, cerdas sekali

  2. quote: I’m not doing this life for heaven or hell. Just do it. Lillahita’ala

    he …. emang ga mudah Do.. tapi menurutku justru akan sangat memudahkan kita untuk mencernakan semua yang ada di dalam dan disekeliling kita, timbang digawe ruwet akhire malah mbulet ujung-ujunge terus buntet

    halah aku metuek…
    babah sekalian blogwalking

  3. #ika : yap. emang jago dah dia urusan itu :)

    #beppe : wakakakka.. ancen wes tuwek to pe? but agree with your point :)

  4. Kalau penulis berbakat, berpengalaman, sekaligus spiritualis memang beda ya :D
    Kata-kata nya seperti lukisan yang indah sekali. Langsung menyentuh ke jiwa.
    .
    Statementnya berikut ini sangat tepat :
    .
    Segala penyebab mengapa sebuah kondisi tercipta, barangkali kita cuma bisa tahu sekian persennya aja
    .
    Ini salah satu sebab saya pribadi memilih beragama. Karena kadang kita dihadapkan pada situasi yang kita tidak mampu untuk memutuskan secara tepat, karena kekurangan informasi, atau karena terlalu banyak informasi (sehingga CPU kita menjadi overload dalam mengolahnya).
    Nah pada saat seperti ini kita bisa mencoba mencari jawabannya dalam agama.
    .
    Saya juga setuju banget dengan posting sampeyan soal komitmen :
    .
    Bagi yang sudah bersuami atau beristri, maka janji dan komitmen yang diucap ketika prosesi ijab qabul adalah nyawanya.
    .
    Saya memilih melihat pernikahan itu sebagai komitmen. Ketika sudah diucapkan janji sehidup semati, maka harus diusahakan agar bisa terwujud.
    .
    Menarik membaca komentar2 di blog Dewi tersebut. Kualitasnya jauh di atas rata-rata :)
    .
    Contohnya misalnya yang ini. Saya terpekur membaca kebijaksanaan dan kesabaran dari ibu komentator tersebut.
    Sebetulnya ada opsi cerai bagi sang ibu. Lagipula sudah ada terjadi penganiayaan dan kezaliman dalam rumah tangganya. Manusia normal pasti sudah memilih opsi tersebut.
    .
    Namun, dia lebih memilih berusaha membawa suaminya ke jalan yang baik. Dan pada akhirnya, seluruh keluarganya pun juga menjadi baik. Dengan mengorbankan jiwa (ego, emosi) dan raganya (penganiayaan fisik) dalam prosesnya.
    .
    Ini adalah sabar tingkat tinggi. Sabar yang setingkat dengan levelnya para Nabi dan sahabat-sahabatnya.
    .
    Dan tidak semua orang bisa atau mampu untuk melakukannya.
    .
    Anyway, mudah-mudahan keluarga Dewi Lestari selalu diberi petunjuk kepada kebenaran, aminn.

  5. Saya merasa turut bersedih membaca posting yang satu ini.
    .
    Indonesia perlu orang-orang seperti Dewi Lestari, untuk mengangkat kita semua dari kebodohan & keterpurukan kita.
    .
    Mudah-mudahan mereka diberikan kekuatan oleh Tuhan untuk mengemban beban tersebut, aminnn.

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>