Portal Berita Favorit Anda

Edo on September 12th, 2008

Apa portal berita favorit anda? Jika pertanyaan ini diajukan kepada saya beberapa tahun lalu (atau bahkan 1 tahun lalu) saya akan dengan cepat menjawab : Detik. Yap. Nyaris ini hanya satu-satunya portal berita yang saya baca. 99% berbanding 1% dengan portal berita lainnya.

Sekarang? Entah kenapa, sejak detik melaunching portal beritanya yang baru, mungkin karena saya jet lag dengan layout dan tampilan barunya, saya jadi iseng mencoba masuk ke portal-portal berita lainnya. Sekarang, relatif saya mengakses 4 media : Kompas, Detik, Okezone dan Tempo.

Mengapa ini bisa terjadi? Apa yang berubah dengan saya (dan media favorit saya dulu?)? Apa plus minus nya sekarang menurut saya?

Saya menganggap, perubahan itu disebabkan oleh beberapa hal :

Pertama, karena semakin marak dan seriusnya para pengelola portal berita belakangan ini. Dari dulu saya sih sudah sangat terganggu dengan iklan di detik yang semakin lama semakin banyak dengan berbagai model iklannya. Tapi, ya mungkin waktu itu portal yang lain meski tanpa iklan lebih parah. Waktu okezone hadir, meski nyaris tanpa iklan, saya tetap saja tidak nyaman. Detik dengan segala kekurangannya benar-benar telah mencuci otak saya dengan pola mengakses berita di portal. Sehingga Okezone yang lebih nyaman dengan tanpa iklannya tetap tidak membuat saya ingin menghampirinya. Kategorisasi beritanya tetap tidak nyaman dimata saya. Saya sempat heran memang. Kurang apa Okezone. Mereka hadir tanpa iklan, strong di media ; punya TV, jaringan radio, koran, tabloid dan majalah yang menggurita. Mereka punya basis media yang kuat. Dana? whew, siapa yang tak kenal pemilik Okezone. Saya tidak mendapatkan alasannya. Satu-satunya komentar dikepala saya waktu itu, saya beranggapan bahwa seharusnya Okezone memperkuat diri di segmen gosip dan infotainment saja. Mengingat mereka kuat disitu. Meskipun sudah ada kafegaul atau kapanlagi.

Kompas? Hmm.. waktu itu saya anggap kompas tidak terlalu serius. Posisi portal kompas dimata saya hanya pelengkap tidak jelas dari Koran Kompas yang memang strong dipasaran. Paling, saya cuma suka lihat kompastv atau celebtv dimana saya bisa menonton video pendek yang menampilkan artis-artis yang aduhai. Padahal jelas dalam konteks media (Terutama cetak. Karena toh KKG juga “gagal” dengan TV 7 nya yang pada akhirnya di beli oleh Trans Corp.), Kompas sangat leading.

Tempo? sebenarnya saya sampai sekarang masih belum terlalu mengikuti. Padahal dulu, Majalah Tempo adalah favorit saya untuk berita politik.

Kompas dan Tempo adalah media yang saya idolakan dalam konteks cetak. Saya berpendapat (meski  saya tidak percaya ada media yang benar-benar 100% independen dan tidak dihampiri oleh kepentingan sekelompok orang), 2 media ini relatif mampu mempertahankan kualitas pemberitaannya. Tempo sendiri saya kenal sebagai “sekolah media cetak” bagi wartawan-wartawan dan menghasilkan wartawan yang memiliki idealisme tinggi.

Tapi di dunia online? Detik favorit saya. Dulu.

Ketika tahun ini semua media tersebut melakukan pembaharuan (begitu pula dengan saya tentunya), pergeseran pun terjadi.

Kedua, karena media-media online lain mulai serius menjalani bisnis mereka. Hal ini ditandai dengan re-born sejumlah media online baru.

Ketiga, mungkin karena saya terbiasa dengan model lama detik yang sederhana (meski sekali lagi : iklannya bikin repot), saya jadi terganggu dengan perubahan yang ada. Perbaikan visual yang juga dilakukan di segment yang ada di detik (detikinet, detikhot etc), justru membuat saya kehilangan kesederhanaan detik itu sendiri.

Beberapa fitur baru yang dihadirkan detik justru juga tidak menyamankan saya. Tema web 2.0 yang sarat dengan interaktifitas justru membuat detik dimata saya jadi seperti kaskus yang berbagai caci maki dan gosip gak jelas bisa disampaikan.

Keempat, mungkin karena saya sendiri tumbuh dan berkembang. Lama-lama saya baru menyadari bahwa berita di detik itu banyak sekali mengalami perulangan content. Kata seorang teman jurnalis, itu ada istilahnya, dimana setiap perubahan dan penambahan berita disampaikan. Namun dengan alasan “reminding” yang menciptakan korelasi dengan berita sebelumnya, harus ada kata-kata pengaitnya. Namun, saya jadi merasa bahwa content beritanya ya itu-itu saja. Mulai males deh.

Kelima,  hadirnya Blog.  Banyaknya pewarta independen atau yang kerennya disebut dengan civilization journalist ini membuat alternatif pencarian informasi menjadi semakin beragam. Ke-eneg-an saya dan sedikit keapriorian saya atas independensi jurnalis juga membuat saya tidak lagi mudah percaya dengan 1 sumber saja. Dimata saya, sekarang hampir tidak ada media yang netral. Semua membawa kepentingan, entah itu kepentingan owner, penguasa atau sebagainya.

Oh ya. Saya juga tidak suka dengan klasifikasi “blog seleb” yang diterapkan oleh beberapa media seperti detik dan kompas. Menurut saya ini “membunuh” idealisme blog yang “lebih mempedulikan apa yang disampaikan daripada siapa yang menyampaikan”.  Adanya stratafikasi blogger hanya akan semakin memperbodoh masyarakat kita.

So, apa kelebihan portal media/berita belakangan ini menurut saya? Portal apa yang sekarang  ini lebih sering anda baca?

Pertama, Kompas. Ya. Portal berita ini yang sekarang lebih sering saya baca (selain blog tentunya). Meski jika dihitung mungkin posisinya masih 50:50 dengan detik, tapi saya lebih memilih kompas sekarang. Beberapa alasan saya mungkin adalah :

1. Romantisme saya yang merasa kompas adalah media yang layak di percaya. Kredibilitas berita. Kompas buat saya masih cukup lebih layak dipercaya (bersama Tempo).

2. Beritanya tidak terlalu berulang-ulang. Setiap berita tidak hanya memberikan informasi perkembangan baru, tapi memang memberikan “perspektif” baru. Agak sulit saya menjelaskan item ini. Tapi intinya, lebih kuat content beritanya.

3. Masih lebih strong di “berita” daripada menu lain. Andai ada fasilitas lain, di halaman depan portal kompas posisi berita tetap sangat dominan. Klasifikasi di menu beritanya lebih nyaman dan fokus. Then, saya juga suka dengan adanya kolom khusus seperti “Road to white house” atau pilkada. BEgitu pula dengan hadirnya kolom khusus keilmuan, seperti adanya kolom Hermawan. Dulu, saya ingat detik ada kolom Gede Prama dan A’a Gym. Sayang sekarang sudah tidak ada.

4. Warna dasar putih yang dominan, membuat saya lebih nyaman untuk membaca berita. Alasan yang sama juga untuk Tempo Interaktif.

5. Iklannya lebih sedikit

6. Fasilitas kompas tv dan celeb tv. Lumayan buat hiburan :)

Media berikutnya yang sering saya baca masih Detik, terutama untuk Detikinet dan Sepakbola. Alasan saya?

1. Mungkin karena masih ada romatisme dan kebiasaan yang belum bisa saya hilangkan. Alamiah nih. Ketika mau membaca berita, tetap saja jari-jari saya otomatis mengetikkan detik.com. Sungguh, salut untuk ini. Entah apa yang dilakukan Detik sehingga tetap saja saya cinta sama mereka :) .

2. Karena 2 kolom berita mereka tetap favorit buat saya : Detikinet dan Sepakbola. Detikinet tetap menjadi referensi berita IT yang saya pakai. Begitu pula sepak bola. Mungkin ini disebabkan karena belum ada media lain yang bisa membuat saya mengalihkan pandangan.

Berikutnya, Okezone.  Disini saya sih lebih sering cari berita infotainment dan gaya hidup heheheh..

Terakhir, Tempo Interaktif.  Alasan saya tentang tempo :

1. Inipun mungkin juga karena romantisme saya tentang independensi berita. Tempo juga sering saya gunakan sebagai komparator berita.

2. Fitur-fitur yang ada di Tempo juga lucu dan bermanfaat, seperti  PDAT, Photostock, dan fasilitas klipingnya.

Well. Bagaimana dengan anda? ada perspektif lain?

*ps : meski ngga penting untuk disampaikan, tapi saya tetap merasa perlu. Tulisan  ini adalah tulisan subyektif. Tidak ada tendensi untuk menjatuhkan atau mempopulerkan salah satu media. Tidak juga karena dibayar oleh salah satu media dan sebagainya. Ini hanya sebuah perspektif sebagai bentuk kecintaan dan kesenangan saya terhadap pertumbuhan portal-portal media di Indonesia hehehhe..

12 Responses to “Portal Berita Favorit Anda”

  1. bacaanku:

    1. http://planet.terasi.net
    2. http://agregator.airputih.or.id
    3. http://merdeka.or.id

    wes iku tok. portal berita? jarang-jarang baca berita :D

  2. ini nulisnya setelah nyuri tempe di dapur sebelah ya? hahaha…

  3. Dulu waktu detik erita bmasih awal2 cukup tenar dengan tampilan tidak seperti sekarang. Mungkin detik bersaing dengan okezone, kompas dll. Bahkan ada fasilitas detikchat. Saat itu masih belum ada opensource sehingga menggunakan java. sayang g ada lg detik chat. pdahal komunitasnya sering kumpul2.

  4. #dudi : wah, kl itu dimasukin, tak tambahi dud
    - tukangkebun.net
    - songolimo.net
    kekekek

    #ndoro : wah, sumpah ndoro. selama bulan puasa saya udah ngga pernah ngambil tempe di warung sebelah. suer!

    #kurt : sisi positifnya ini menunjukkan bahwa bisnis TI di indonesia tumbuh om. sehingga persaingan terbentuk. dan ini bagus bagi kita terutama konsumer

  5. Kompas buat saya masih cukup lebih layak dipercaya
    .
    Berkali-kali saya menemukan Kompas melakukan kesalahan jurnalistik yang cukup fatal. Sialnya karena nama besarnya, jadinya tidak ada yang komplain.
    ,
    Maka ketika A.Fajri membuat mediawatch.or.id, saya dokumentasikan temuan-temuan saya disitu. Sementara beberapa kontributor yang lainnya sibuk memfokuskan ke salah ketik / typo di detik.com :)
    .
    Sayang website tsb lenyap :( dan besertanya, semua artikel saya mengenai masalah2 di Kompas
    .
    Beberapa waktu yang lalu saya jadi teringat lagi soal ini ketika ada kawan saya yang curhat. Menteri Pertanian membuat kebijakan yang populis, namun justru diserang habis-habisan di jaringan Kompas. Ketika diselidiki, ternyata ada kepentingan bisnis yang terancam dengan kebijakan Mentan tsb. Maka diadakanlah artikel2 yang menyerang ybs.
    .
    Mentan lalu mengadakan press release untuk meluruskan fitnah-fitnah yang berseliweran. Tebak apa yang terjadi? Press releasenya tidak dimuat :)
    Media sukses membungkam Menteri. Wow.
    .
    Akhirnya kami buatkan blog untuk Mentan, gratis.
    Alhamdulillah, sekarang beliau bisa bersuara lagi, tanpa takut dibungkam oleh media yang bias.

  6. #sufehmi : hehehe… setiap orang pasti punya pengalaman mas. dan sebelumnya juga saya menulis :

    “Saya berpendapat (meski saya tidak percaya ada media yang benar-benar 100% independen dan tidak dihampiri oleh kepentingan sekelompok orang),”

    so, saya malah lagi krisis kepercayaan dengan banyak media :) .
    but thank atas perspektifnya uda. memperkaya khasanah kita.

    keep sharing!

  7. Saya masih langganan Kompas, dan beli Tempo mingguan…kadang2 Gatra. Namun untuk berita on line, masih setia pada Detik.

    Sependapat sama pak Sufehmi, Kompas sekarang tak teliti seperti dahulu kala, atau mungkin karena terjebak persaingan yang ketat? Namun Kompas masih paling baik, masih “agak seimbang” pemberitaannya. Kalau media yang kelihatan memihak, saya lebih baik tak baca….

  8. no fave portal, no fave website, just seek what i need
    portal berita di indonesia pembeo, ga kreatif
    tetep lebi nyaman baca koran cetak dh ktimbang baca detik, kcm dkk

  9. Outstanding factors below. I’m thrilled to search your own content. Thanks a lot with this particular looking towards make contact with an individual. Are you going to nicely lower us a e-mail?

Trackbacks/Pingbacks

  1. Beyond Good and Evil
  2. mypastpresentandfuture » Blog Archive » Pelajaran dari Dee, Marcell, Reza dan Rima
  3. Guruku Sayang Guruku Malang.. « Taman Sari

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>