Si miskin dan Si pemabok

Edo on September 21st, 2008

Ada rutinitas yang secara alamiah saya lakukan di bulan Ramadhan ini. Menonton (entah apa namanya) Para Pencari Tuhan jilid 2. Seperti acara besutan Dedi Mizwar lainnya, acara ini sangat menarik untuk diikuti. Ringan, namun sarat makna. Sebuah dakwah yang disampaikan dengan cara yang membumi. Dan diluar itu, Bang Dedi sering menyampaikan nilai-nilai yang sedikit paradox dengan pemahaman umum yang dimiliki masyarakat ini.

Saya ingin mengambil 2 episode dalam acara Para Pencari Tuhan ini.

Pertama, peristiwa ketika Pak Jalal (diperankan oleh Jarwo Kwat), orang paling kaya dan satu-satunya orang kaya di desa itu yang sangat stress ketika orang-orang dikampungnya yang biasanya selalu meminta bantuan kepadanya tiba-tiba tidak lagi membutuhkannya. entah itu karena benar-benar tidak butuh, atau secara tidak sengaja terskenariokan tidak butuh. Pak Jalal tidak divisualisasikan sebagai sikaya yang sempurna. Bahkan cenderung nyebelin. Tapi justru dibalik sifat nyebelin itu, dia menyimpan ketulusan.

Saya ketawa ngakak sekaligus miris ketika Pak Jalal sangat stress, sampai harus berkeliling desa hanya untuk mencari orang miskin yang mau menerima bantuannya. Sampai dalam doanya dia memohon kepada Tuhan sebuah permintaan yang nyeleneh. Meminta agar Tuhan memelihara kemiskinan di desa itu.

Kenapa? Alasannya ini yang membuat saya merinding.

“Jika sudah tidak ada lagi orang miskin, bagaimana saya bisa beribadah?”.

Ya. Seharusnya orang kaya beribadah dengan hartanya. Orang berilmu beribadah dengan ilmunya. Orang berkuasa beribadah dengan kekuasaannya.

Well.  sebuah potret yang bertolak belakang dengan apa yang terjadi di bangsa ini. Andai saja para orang kaya, berilmu dan berkuasa memiliki mind set seperti Pak Jalal, mungkin sudah sejahtera bangsa ini.

Cerita berikutnya adalah cerita tentang Baha (diperankan oleh Tora Sudiro), seorang pemabuk, sahabat  Asrul. Suatu ketika Asrul menemui Baha tengah mabuk. Karena tidak lagi mampu menasehati, Asrul membawa Baha ke Om Jack yang diperankan oleh Dedi Mizwar. Bang Jack meminta Baha untuk tobat. Menjalankan sholat tobat. Alih-alih mau sholat, Baha malah menemukan bukti melalui kompas yang dibawanya bahwa mushola desa itu kiblatnya melenceng beberapa derajat. Dan desa itupun gempar. Karena selama ini mereka sholat tidak menghadap kiblat, tapi ke Stadion Manchester United :) .

Hampir semua orang di desa itu tidak menerima realita itu. Dan yang paling tidak diterima adalah, kenapa pesan itu, kebenaran itu lahir dari mulut seorang Baha yang notabene seorang pemabuk.

Lagi-lagi, Dedi Mizwar menyentil budaya yang berlaku dibangsa ini yang cenderung hanya mau menerima kebenaran agama dari orang berjenggot, berjubah dan berdahi hitam. Hanya mau mengakui kepintaran dari sederetan gelar akademis yang tersambung di nama seseorang. Yang cenderung lebih menghormati orang yang kaya, berkuasa, dan pintar berdasarkan simbolitas-simbolitas. Kalimat bang jack waktu itu sungguh menyentuh

“Kenapa Tuhan sampai harus menyampaikan pesan kebenaran dari seorang Pemabuk? Justru yang perlu dipertanyakan bukan Baha, tapi ada apa dengan kita sehingga Tuhan enggan menyampaikan pesan kebenaran melalui kita?”

Betapa banyak simbolitas-simbolitas yang telah kita Tuhankan.

7 Responses to “Si miskin dan Si pemabok”

  1. itu kali ya alasannya kenapa MU keok kemaren2… *ga nangkep esensi model on*

  2. #keringet : wakakakka… lha. justru karena itu MU tahun lalu menang liga dan champion win. karena di sembah sama itu orang di sinetron kekekek

  3. Tos dulu, Ed! Sesama penggemar Deddy Mizwar dan Didi Petet. :D

    > karena di sembah sama itu orang di sinetron

    BTW, saat sholat kita ngadep kiblat, tapi bukan nyembah kiblatnya kok. ;)

  4. huehehehehehe
    wah tontonan kita sama da :P
    Om Deddy emang TOP banget dech, ada satu lagi yang juga ga kalah keren and sarat makna judulnya “Rinduku, CintaMu” tayangnya setiap malam selama Ramadhan ini, terlalu malam menurutku tayangnya sekitar jam 11 an jd mungkin banyak yg gak nonton karena sudah tertidur apalagi anak2.
    Rinduku,CintaMU ini ternyata produser nya Om deddy Mizwar juga …..

  5. Ga nonton yang episiode ini.. menarik sekali tulisannya.

    “Lagi-lagi, Dedi Mizwar menyentil budaya yang berlaku dibangsa ini yang cenderung hanya mau menerima kebenaran agama dari orang berjenggot, berjubah dan berdahi hitam”.

    Apa memang kebenaran bisa dimanipulasi? Saat suatu kebenaran dikemas dalam kekerasan, apakah itu bisa disebut kebenaran? Atau sebaliknya, saat suatu ketidakbenaran dikemas dalam bungkus yang indah, menarik dan santun, sehingga diterima sebagai kebenaran? Apakah kebenaran yang sesungguhnya?

  6. Thanks tulisannya, saya lama ga nonton TV….

  7. #bee : hehehe iya bee. kilap :p

    #v3 : iyah. nanang sempet bilang. sayang jam segitu ngga tau pernah didepan tipi hehehe

    #fitri : heheh, tergantung perspektif kita tentang kebenaran sih. menurut saya sih mbak, sometimes, toh sesuatu dianggap benar dalam konteks sosial ketika mayoritas dari masyarakat mengakui kebenaran sesuatu. sebuah kebenaran komunal. dan dalam komunitas/masyarakat, toh sangat dimungkinkan pihak-pihak dengan kemampuan dan kekuasaan tertentu mengarahkan pendapat publik.
    nah, problemnya, kebenaran macam apa yang ingin cari? dan apakah kita sudah memanfaatkan seluruh kelebihan yang diberikan Tuhan, dan umur yang kita gunakan untuk mencari kebenaran itu sendiri.
    lagi2, ini cuma pendapat saya. ibarat proses pencarian yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim, sometimes saya berfikir, proses pencarian kebenaran itu akan terjadi secara terus menerus, sampai ditemukan kebenaran yang hakiki.
    ujung2nya jadi debatable deh heheheh… karena kita juga tetep bisa mempertanyakan, kebenaran hakiki itu seperti apa :p

    #edratna : sama-sama ibu.. :)

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>