Berbuat Benar
Hari ini saya mendapatkan pelajaran berharga
Anyway, saya akan mundur jauh kebelakang.
Sekitar bulan July 2007, saya kehilangan dompet. Dompet itu saya perkirakan ketinggalan di taxi ketika saya meninggalkan taxi menuju kantor di Menara Saidah. Hilanglah sudah semua. Yang sudah saya bayangkan akan ribet bukan uangnya. Tapi saya sangat malas mengurus KTP, SIM, ATM dan berbagai dokumen lainnya.
Saya lalu mencoba datang ke bank terlebih dahulu. Ya bagaimana lagi. Ini yang paling penting saya fikir. Karena saya jadi tidak bisa bertransaksi. Namun, saya ditanyai surat kehilangan dari polisi. Dan saya belum mengurusnya.
Saya paling malas berurusan dengan polisi. Tapi akhirnya dengan terpaksa, tanggal 14 Agustus 2007, sayapun mengurusnya. Tapi ya itulah. Dengan alasan kesibukan dan masih ada tools lain yang membantu, saya ujung-ujungnya tetap tidak mengurus dokumen-dokumen yang hilang. Transaksi perbankan bisa saya selesaikan via Internet Banking. Untuk identitas, sejak itu saya membawa pasport kemana-mana :).
Sekitar bulan Januari 2008, saya akhirnya membuka rekening baru. Ya. Daripada repot mengurus kehilangan yang ditanyai macem-macem, dan surat kepolisian yang dianggap sudah terlalu lama, saya akhirnya memilih membuka rekening baru. Dan dengan itu, hidup saya terus berjalan. Sempat memang saya mengurus SIM dan KTP. Yah, lewat makelar tentunya. Betapa mudahnya segala sesuatu dibeli dengan uang di kota ini memang terkadang membuat saya semakin malas. So, ya mending bayar orang saja.Kebiasaan jelek? Saya akui, iya.
Tapi terlepas atas berantakannya mekanisme dinegara ini, ternyata mengurus SIM tidak semudah dulu lagi. Dulu, dengan uang 300an ribu, saya tinggal meminta tolong calo untuk mengurus SIM. Sekarang? Hmm… ternyata tidak bisa. Saya harus datang test sendiri. Calo (yang tentu saja juga polisi) hanya bisa menjamin test saya formalitas belaka. Tapi toh sebenarnya ini tidak ada manfaatnya. Wong saya benar-benar bisa nyupir kok. Rambu-rambu dan aturanpun saya ketahui dengan baik. Tapi dengan alasan malas dan waktu, saya toh tetap saja membayar calo. Dan karena harus tetap datang dan test yang bisa menghabiskan waktu seharian, sampai sekarang saya tidak mengurus SIM. Kalau tertangkap? Ya tinggal bayar. Polisi toh dengan senang hati menerima sogokan saya.
Bulan puasa kemaren, tepatnya tanggal 14 September 2008, kembali saya kena musibah. Kantor dibobol maling. Dan entah kenapa, waktu itu saya meninggalkan tas saya lengkap dengan segala isinya dikantor. Selama bulan puasa memang saya punya kebiasaan yang semakin parah : hidup di kantor sampai mendekati sahur, pulang hanya untuk sahur dan tidur. Dan kali itu tas saya tinggalkan. Dan lenyaplah sudah laptop, dan seluruh identitas yang tersisa. Termasuk key Mandiri dan Key BCA beserta buku rekening BCA yang baru.
Hari ini, saya akhirnya baru sempat mengurus benda-benda itu. Awalnya saya datang ke Bank Mandiri, membawa surat polisi dan KTP. Data saya diverifikasi. Dan betapa kaget saya, ternyata data pembukaan rekening itu, masih menggunakan data-data ketika saya masih di Malang. Alamatnya alamat Malang. Menggunakan SIM yang memang masih terdaftar di Malang. Dan saya tidak ingat satupun data-data itu.
Pihak bank mencoba membantu saya. Saya tahu dia tidak berusaha mempersulit saya. Tapi apa daya, data-data saya ternyata tidak pernah terupdate. Its my own mistakes. Akhirnya, dengan clue beberapa transaksi terakhir di rekening saya, rekening Mandiri saya bisa diaktifkan kembali. Tapi Key Mandirinya masih butuh waktu untuk di proses.
Setelah dari Bank Mandiri, saya ke Bank BCA. Dari pintu masuk, satpam wanita yang ramah sudah menanyakan keperluan saya. Menanyakan apakah saya membawa surat kepolisian. Akhirnya saya mendapatkan nomor antrian.
Cukup lama saya menunggu. Jika di bank sebelumnya hanya 1 jam, saat ini harus menunggu 2 jam. Ketika akhirnya saya dipanggil ke Costumer Service, ternyata saya tidak bisa memproses pengaktifan kembali rekening saya.
Kenapa?
KTP saya adalah KTP Bekasi. Pihak CS Bank BCA menyatakan bahwa saat ini rekening BCA Jakarta hanya bisa dibuka dengan KTP Jakarta. Dia lalu menanyakan identitas saya yang lain dengan alamat saya yang sama. Saya lalu bilang, identitas saya hilang semua. CS yang ramah itu lalu menanyakan surat pernyataan bekerja dari perusahaan (yang harus beralamat Jakarta) atau NPWP.
Well. Saya tidak membawa satu-pun. Saya bertanya apakah mungkin jika surat tersebut atau NPWP saya di fax kan saja. CS nya bilang tidak bisa. Jadilah saya tidak bisa mengurus rekening BCA.
Sungguh, antara sebal dan bete, saya akhirnya pulang. Seharian dari jam 9an saya meninggalkan rumah untuk mengurus 2 hal ini, saya hanya berhasil mengurus 1 rekening saja. Tapi harus saya akui, ada beberapa hikmah yang saya dapatkan.
Pertama, semua saya anggap diawali oleh keteledoran saya. Saya memang orang yang suka asal terhadap dokumen. Teledor dan tidak hati-hati. Orang di kantor sudah terbiasa dengan kebiasaan saya ini. Mereka cuma bisa geleng-geleng dengan kepikunan dan kebiasaan saya meninggalkan barang seenaknya. Meskipun mereka juga suka terbengong-bengong ketika melihat saya tenang-tenang saja jika kehilangan sesuatu.
Kedua, atas kecarut-marutan yang terjadi di Bangsa ini, ternyata banyak hal mulai teratur pelan-pelan meski mungkin belum signifikan. SIM tidak lagi begitu mudah di beli. Pihak Bank mempertanyakan KTP Jakarta saya. Ini tentu setidak-tidaknya membantu menekan angka urbanisasi yang rata-rata datang dengan identitas daerah masing-masing. Bank juga menanyakan NPWP saya. Well, sungguh saya baru tahu. Berarti, pihak bank tidak hanya telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian, tapi juga dengan pihak pemerintah daerah untuk urusan KTP dan pihak Pajak. Belum lagi berbagai informasi bahwa mengurus perpanjangan STNK dan SIM bisa dilakukan di beberapa Mall dan mobile service pihak kepolisian yang tersebar dibeberapa tempat. Memang, tentu saja ini masih jauh dari sempurna. Saya membayangkan andai saja konsep Single Identity Number (SIN) diterapkan, tentu segalanya akan semakin mudah. Tapi, ini menurut saya sudah lebih baik.
Dan yang ketiga, tentang penerapan aturan. Ini hikmah terbesar yang saya terima.
Saya berasumsi, saya adalah potret mayoritas masyarakat Indonesia. Malas mematuhi aturan, menganggap aturan adalah untuk dilanggar. Lebih keren lagi, dengan alasan sibuk, waktu yang tidak tersedia, menyalahkan macet yang menghabiskan waktu, pelayanan publik yang tidak beres, justru membuat saya malah ikut menjadi bagian dari kerusakan sistem itu sendiri. Saya justru tidak mau memperbaiki diri dengan alasan sistem yang memang tidak baik. Ketika saya memprotes orang yagn buang sampah sembarangan, saya malah ikutan buang sampah sembarangan dengan alasan “mubazir gw buang sampah pada tempatnya kalau toh yang lain ngga kayak gue” Atau “ngga ada gunanya kali punya SIM. Wong polisi tetep aja nyari-nyari kesalahan gue biar bisa dapet duit dari gw”, dan berjuta alasan lainnya. Wuih… hari ini saya sangat tersadarkan, betapa saya adalah salah satu komponen yang menyebabkan bangsa ini semakin brengsek dan terpuruk :(.
Yap. Saya senang atas kesusahan saya hari ini. Senang melihat mengurus SIM semakin prosedural. Senang karena pihak bank benar-benar konsisten bahwa yang bisa membuka rekening di Bank hanya penduduk Jakarta atau orang yang benar-benar telah memiliki pekerjaan di Jakarta. Senang ketika melihat antar departemen di lini pemerintahan saling bekerjasama : polisi, pemerintah daerah, pajak, dan sebagainya. Bahkan antara pihak industri (dalam hal ini antara pihak bank dengan pemerintah).
Saya juga merasa sangat malu, betapa saya ternyata beda tipis atau bahkan sama saja dengan orang-orang yang suka saya protes. Malu dengan pendidikan dan pengetahuan yang saya miliki karena toh saya sama saja dengan orang-orang yang tidak berpendidikan yang tidak taat aturan. Yang suka jalan pintas, suka menyogok, suka mengakali aturan. Saya jadi merasa bahwa jangan-jangan ini memang penyakit akut bangsa kita. Dan untuk menumbuhkan kesadaran memang terlalu sulit. Lebih baik dipaksa saja.
Saya berharap saya suatu saat diusir dari Jakarta karena tidak punya KTP. SIM saya ditarik ketika saya melanggar aturan. STNK mobil diambil ketika saya tidak membawa SIM. Mengurus segala sesuatu menjadi sulit ketika saya tidak memiliki indentitas. Kalau perlu, semua dipersulit ketika saya tidak memiliki NPWP, menjalankan kewajiban saya sebagai warga negara untuk membayar pajak.
Suka tidak suka, sepertinya saya harus jujur bahwa bangsa ini saya memang bermental tempe, yang baru mau patuh jika di injek, dipaksa dengan aturan. Benda bernama kesadaran sepertinya masih barang mahal di negeri ini. Buktinya, negeri ini ternyata memang lebih baik ketika dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang cenderung otoriter seperti Bang Ali Sadikin, Bung Karno, atau gaya otoriter yang terlihat tidak otoriter seperti Pak Harto. Buktinya, jaman Pak Harto korupsi hanya berada disekeliling orang-orang dekatnya. Sekarang malah lebih parah.
Hari ini saya disadarkan untuk lebih taat aturan, lebih memperhatikan dokumen-dokumen dan prosedur. Hari ini saya benar-benar ingin punya identitas yang lengkap mulai dari KTP, SIM, NPWP, Pasport, dll. Dan semua diurus dengan baik dan benar. Tidak perlu lagi rasa was-was ketika dihampiri polisi karena saya toh mentaati aturan dan membawa dokumen yang lengkap. Tidak perlu berharap polisi tidak lagi mau disogok. Semua harus dimulai dari diri sendiri. Kalau kita tidak berbuat salah dan taat aturan, toh polisi tidak akan bisa malakin kita kan? Jika semua data kita lengkap,toh waktu yang dihabiskan juga tidak akan banyak karena semua indentitas dan prasyarat kita miliki? Jika kita tidak pernah korupsi, tentu tidak perlu takut dihampiri oleh KPK.Tidak perlu harus menunggu perintah dari KPK untuk melaporkan kekayaan kita ketika kita menjadi pejabat publik. Datangi saja KPK, lalu laporkan.
Berbuat benar, akan membuat hidup jauh lebih baik.
Yah, semua memang harus dimulai dari diri sendiri. Ngga usah jadi maling yang teriak maling. Tidak usah mengharapkan orang lain menjadi lebih baik jika kita sendiri sama saja brengseknya. Semua harus dimulai dari diri sendiri. Ketika kita sudah memulai dari diri sendiri, insyaallah pelayanan publikpun akan semakin baik. Polisipun tidak akan mau di sogok. Mengurus perijinan semakin gampang. Dan hidup akan lebih baik dan mudah.
Semoga, kita akan semakin baik.
Popularity: 3% [?]
Tulisan yang menarik, Mas Edo.
Saya suka tulisan seperti ini. Pengalaman pribadi. Menyentuh. Saya jadi bisa belajar dari tulisan ini.
Minimal, belajar untuk disiplin seperti yang Mas Edo contohkan dalam tulisan ini.
Eeh, saya pernah loh diusir dari JKT. Rasanya… hmhh ndak enak juga yaa.
Saya berharap Mas Edo tidak mengalaminya.
Kali ini gw sepakat abis ama lu, bro! Kebanyakan mental org Indonesia ya begitu itu: maling teriak maling. Pas gak ada perlu ama KKN, sok teriak anti KKN, begitu ada butuhnya, eh… KKN juga. Pas nyetir mobil, sok misuh2 sama pengendara motor yg egois, eh… begitu dia sendiri naek motor, gak ada bedanya ama yg dipisuhin. Kampret emang!
Seperti yg sering gw bilang ama temen2 kalo pas diskusi tentang Indonesia ini, gw sepakat ama Tjokro… yg perlu diganti di Indonesia ini bukan cuma pemimpin dan pemerintahannya, tapi juga sak rakyat2-nya semua!
kapan akan mulai menaati aturan Tuhan?
#epat: persis kata bisma, sukanya maling teriak maling
elu kemana aja sih do? Dari jaman baheula juga, bikin rekening kalo ga pake ktp sekota, udah ga bisa!! saking aja lu dulu punya ktp malang, coba kalo ktp bukittinggi, dijamin di malang juga ga bisa bikin rekening, kecuali ada surat keterangan bekerja dari kantor, wekekekeke… doh doh, prasaan udah dari dulu deh itu, dulu bangetsss, udah dari 2003-an udah begitu. Jakarta ketinggalan banget kalo baru sekarang, wakakakaka
#bangaip : eh, bangaip hehehe.. jadi malu nih.
maksudnya sih bukan beneran di usir om. tapi sepertinya, aturan yang cuma sekedar aturan, ngga bakal jalan deh di negeri ini. apalagi berharap kesadaran. pait dah. so, mending tangan besi aja. baru beres nih negara kayaknya kekekke
#bee : hihihi.. gw juga ngerasa tuh bee. bawa motor asal. pas lagi nyupir mobil ada motor ugal2an, mo protes jadi malu kekekke
nah, urusan anjar, itu die tuh. mending pemilu 2009 diganti. ngga usah pemilihan DPR or Presiden, tapi mending pemilihan rakyat indonesia aja.
#epat : wah, Tuhan gw mah baek. mo diturutin apa ngga mah sok aja. paling ntar terakhir2nya aja. efeknya baru terasa. long life lagi hehehe
#dudi : ehem… suwun dud wes diilingke. aku gak penak ngeling ke remaja masjid hihihi
#upika : lah dan. gw pan jarang ngurus sendiri. biasanya kan elu yang urusin? elu sih bikin orang2 keenakan. jadi ngga tau rasanya ngurus sendiri hihihi..
ps : gw buka rekening dimalang pake KTP Bukittinggi tuh. plus KTM :p
Edo, kalau setiap kali kita menyalahkan carut marut administrasi di negara ini, dan ikut serta, itu artinya bukan memperbaiki. Saya mungkin termasuk yang diketawai teman-teman, semua administrasi lengkap. Bahkan saat tinggal di rumah dinas dan pindah 3 kali, di RT yang sama, saya tetap mengurus perpindahan KTP seluruh keluarga, beserta BPKB dan STNK. Memang mahal, tapi membuat hati nyaman, begitu pula halnya dengan paspor, walau sejak pindah dari Cipete ke Cilandak, saya belum berniat ke LN, tetap saja mengurus pindah alamat.
Karena semua beres, dan saya mengurus sendiri lho, dari RT, RW, kelurahan…begitu juga perpanjangan SIM (yang nyaris tak digunakan), saya tetap mengurus ke kantor polisi tanpa melalui calo…. pelajaranannya adalah, saya jadi mengenal prosedur secara benar, dan ternyata tidak sulit dan biayanya murah. Mengurus anak saya nikah pun, saya yang mengurusnya…dulu suami mirip Edo, tapi sejak menikah akhirnya dia mengikuti saya. Karena segala sesuatu didasarkan atas fakta, dan mencoba mengurus sendiri, akhirnya suami malah suka mencoba hal-hal baru…seperti mengurus IMB rumah, mengecek ke kantor BPN apa betul sertifikat tanah rumah yang akan dibeli sah dll.
klo aq tas punggung berisi semua harta benda , laptop , paspor , buku - buku tabungan , buku nikah (maaf aq dah punya), dompet kartu (ktp , sim dsb) yang kalo ilang maka hilang pula semangat hidupku tapi berhubung tasnya berat, dan amat sangat jarang terlepas jauh dari punggungku alhamdulillah blom sempet ngalamin ilang :). Tapi klo Uang dah bisa dikonversi jadi ktp , sim paspor dsb berarti yg penting kita punya uang
#edratna : setuju bu.. makanya, sepertinya perlu belajar untuk berbuat benar hehehe
#idham : nah, saya juga begitu. bedanya cuman 1. saya pikunan hehehhe
Setuju ama edratna. Perlu belajar untuk berbuat benar. Seperti saya yang bertahun tinggal di kompleks perusahaan yang banyak aturan, termasuk aturan lalu lintas. Awalnya memang terkaget-kaget, lama-lama jadi kebiasaan, apalagi di mana-mana selalu ada tanda/spanduk yang mengingatkan kenapa perlu mengikuti peraturan. Juga ada sidak, razia, dan sosialiasi via spanduk/email/buletin. Dan akhirnya itu berkembang jadi kebiasaan seluruh penghuni kompleks untuk selalu (berusaha) mematuhi aturan.
Mungkin bukan pemerintah dan rakyat yang perlu diganti, tapi aturannya dibuat lebih kuat, disosialisasikan lebih sering dan dijaga lebih baik. Pemerintah Singapur juga ga gampang mendisiplinkan rakyatnya. Tapi dengan kemauan kuat akhirnya berhasil juga..
Setuju dengan Edo, kudu dimulai dari diri sendiri. Lengkapnya seperti kata Aa Gym, dimulai dari diri sendiri, dari hal kecil, dari sekarang juga :-D.
kurang sodaqoh tuh, makanya kena musibah … hehe
Cuma sekedar tips — saya pribadi mem fotokopi semua dokumen penting, dan lalu saya taruh di (1) rumah saya (2) rumah yang lain dengan jarak cukup jauh (misal: rumah ortu).
.
Jadi kalau kebetulan apes dan ada dokumen yang hilang, saya masih ada fotokopinya. Bukan solusi total, tapi paling tidak bisa membantu memperlancar berbagai urusan setelah musibah tsb, hehe.
Saya membayangkan andai saja konsep Single Identity Number (SIN) diterapkan, tentu segalanya akan semakin mudah
.
Sebelum itu, musti ada UU Privacy dulu.
.
Kalau tidak, wahhhh… SIN bakalan di abuse habis-habisan, kekeke