Akhirnya, setelah 3 kali batal dapat tiket nonton Laskar Pelangi, aku kemaren menonton film yang memang telah menarik perhatian orang banyak itu. Meski sudah berminggu-minggu pasca diluncurkan, kemarenpun saya baru dapat tiket untuk yang jam 7 malem, meskipun sudah antri tiket jam 3-an. Setelah Naga Bonar dan Ayat-ayat Cinta, baru ini lagi saya benar-benar niat bolak balik antri tiket.

Jujur saja, saya sebenarnya agak was-was nonton film ini, gara-gara (meski sudah menghindar mendengarkan komentar orang yang sudah menonton) waktu silaturrahmi lebaran, kakak saya menyampaikan pendapatnya tentang film ini. Menurut dia, Riri riza mensutradarai film ini terlalu dokumenter alias terlalu mirip bukunya (berbeda dengan komplain orang yang justru merasa bahwa film yang diambil dari buku harus mirip bukunya, saya dan kakak saya justru setuju bahwa tidak harus seperti itu. Karena bahasa film dengan bahasa buku adalah berbeda). Dia mengharapkan Riri melakukan proses “Riri-fikasi”, atau memvisualisasikan film itu dengan sudut pandangnya sendiri, dan tidak perlu menjadi Andrea Hirata versi film. Disaat orang banyak memprotes Hanung dalam film Ayat-ayat Cinta, kami memang justru salut dengan keberanian Hanung menginterpretasikan buku best seller itu dalam kaca matanya sendiri.  Kenapa? Karena media (entah itu  buku, film ataupun musik) adalah alat interpretasi penciptanya (penulis buku, pengarang lagu atau sutradara film), menampilkan apa yang dirasa dan dimaknai oleh si penciptanya. Ada perbedaan yang esensial dengan seorang sutradara yang (misal) membaca sebuah buku, lalu terinspirasi (yang nilai inspirasinya bisa berbeda-beda) lalu tergerak untuk menyampaikannya melalui media lain dengan seorang sutradara yang dengan kapasitasnya diminta untuk mensutradarai sebuah film.

Kedua, menurut dia, esensi mendasar buku Laskar Pelangi adalah INSPIRING. Dengan tokoh sentral berada di anak-anak laskar pelangi itu sendiri dalam hal ini IKAL, LINTANG dan MAHAR. Tapi menurut abang saya sisi inspiringnya bagi anak-anak kurang kental. Anak-anak laskar pelangi menurut dia dalam film ini lebih banyak divisualisasikan bermain. Justru yang lebih menonjol adalah perang Bu Muslimah dan Pak Har. Terakhir, dia agak terganggu dengan kisah romantika Ikal yang jatuh cinta pada A Ling yang memakan cukup banyak scene dalam film ini.

Sampai akhirnya saya menonton, kemaren malam.

Kesimpulan saya? Well, buat saya, film ini seperti yang sudah saya perkirakan sebelumnya (termasuk dengan adanya Riri Riza dan Mira Lesmana di belakang project ini), film ini memang KEREN!. Film yang sampai pulang membuat saya masih terbawa suasana.

Well, saya tidak akan menceritakan tentang filmnya. Akan lebih baik jika menonton saja langsung. Ngga akan rugi.

Buat saya, film ini masih sangat menginspirasi. Seperti bukunya, menonton filmnya membuat saya merinding, tertawa, menangis, tergugu (tercenung), terpana, dengan siklus yang tidak bisa saya kendalikan. Saya tidak melihat film ini menurun inspirasinya, seperti kekecewaan kakak saya. Justru film ini semakin kuat nilai inspirasinya, dengan tampilnya tokoh Bu Mus, Pak Har dan Pak Zul (Sahabat pak Har)   dengan pesan-pesan yang sangat kuat. Film ini tidak hanya menginspirasi anak-anak, tapi juga menginspirasi guru, orang tua, dan aparat pendidikan. Sungguh, semoga banyak guru, aparat pendidikan dan orang tua menonton film ini.

Begitu sering saya merinding dengan scene-scene nya. Moment ketika Pak Har memanggil para laskar untuk masuk kelas dengan menjanjikan cerita tentang Nabi Nuh ketika Bu Mus kesulitan mengajak anak-anak itu kembali ke kelas. Pak Har seperti mengerti “bahasa” yang tepat untuk menciptakan ketertarikan. Cara Pak Har mengajar yang teatrikal, dengan intonasi kuat, membius anak-anak dengan ceritanya. Menjadikan cerita sejarah menjadi seperti mendengar dongeng yang membuat anak-anak tidak ingin berhenti mendengar, dengan pesan-pesan budi pekerti yang kuat. Sangat berbeda dengan banyak metode pengajaran yang menceritakan sejarah layaknya text book yang harus dihafal, membosankan, yang membuat anak didik berfikir “kapan kelas ini akan berakhir”. Lihat saja bagaimana anak-anak laskar kecewa begitu kelas berakhir. Mereka ingin terus belajar.

Ada moment ketika Pak Har yang sedang berdikusi dengan temannya, Pak Zal, kenapa pak Har memaksakan diri untuk mempertahankan sekolah butut itu. Dan Pak Har menjawab, karena hanya sekolah itu satu-satunya sekolah yang masih meletakkan budi pekerti dan akhlaqul qarimah sebagai pondasi, belajar dengan hati, dan bukan hanya ditentukan oleh angka-angka semata yang ada di raport. Sungguh kalimat yang membuat saya merinding.

Begitu pula banyak moment tentang kecintaan Bu Mus terhadap profesinya. Moment ketika Pak Har bertanya, kenapa Bu Mus tidak memilih menerima tawaran menikah dari saudagar kaya dan pindah ke Jawa. Dan Bu Mus menjawab, karena mengajar adalah cita-citanya, dan Pak Har lah orang yang percaya bahwa Bu Mus mampu menjadi guru yang baik.

Terlalu banyak inside yang saya terima tentang film ini.

Anak-anak laskar pelangi pun ber-acting dengan keren. Awalnya saya memang sempat merasa bahwa kisah anak-anak laskar pelangi seperti hanya bermain saja. Ketokohan Lintang juga kurang menonjol. Tapi setelah saya ikuti, saya pikir kesalahannya ada pada “umur” saya. Ketika saya mencoba untuk merasa menjadi anak diusia itu, saya melihat justru visualisasi nilai-nilai yang ingin disampaikan sudah tepat. Anak diusia itu masih cukup polos, tidak bertendensi menyampaikan nilai. Alamiah. Dan saya merasa bahwa film itu telah menyampaikan nilai-nilai baik kepada anak-anak dengan bahasa anak-anak. Sama baiknya dengan cara film ini menyampaikan nilai-nilai baik kepada orang tua dengan bahasa orang tua.

Visualisasi tentang kehidupan anak-anak laskar pelangi ini juga tak urung membuat tubuh saya merinding. Melihat Lintang yang seumur itu memiliki kesadaran yang kuat menolong ayahnya. Melihat lintang yang merebus air sambil menggendong adiknya. Melihat bagaimana senangnya mereka mendapatkan sebuah majalah di balik pagar kawat sekolah PN Timah. Dimata saya acting mereka alami. Dan pesannya pun sampai.

Kesan bahwa para laskar ini terlihat banyak main-mainnya buat saya justru punya inside tersendiri. Bukankah sekarang sedang populer yang namanya sekolah alam? Anak-anak laskar pelangi benar-benar belajar dari alam. Mereka bukan bermain, tapi belajar. Belajar sesungguhnya hidup.

Tentang kisah Ikal yang jatuh cinta pada A Ling pun, ketika saya menyelaminya setelah selesai menonton, juga tidak berlebihan. Saya tidak merasa itu akan menghasilkan pesan “nanti anak-anak masih kecil sudah ngomong cinta”. Dan jika iya, emangnya kenapa? Saya senyum-senyum sendiri ketika saya ingat, bahwa saya juga pertama kali mulai merasakan ketertarikan dengan lawan jenis saat saya di umur mereka, (Saya masih ingat nama lengkapnya kekekke), kepada anak seorang saudagar meubel (dan saya juga masih ingat nama toko nya dan tempatnya). So, hal itu alamiah kok..

Perubahan-perubahan yang dilakukan Riri terhadap beberapa kejadian yang berbeda dengan bukunya juga saya lihat sangat tepat. Riri Riza mengganti lagu Jazz yang didengarkan oleh Mahar dengan lagu Seroja yang lebih Indonesia dan sangat melayu. Jika dibuku Lintang diceritakan sangat luar biasa, sampai mampu menjelaskan dan berdebat tentang teori fisika yang “njelimet” dengan guru pendamping SD PT Timah, maka difilm itu kasusnya diganti dengan hitungan matematika yang lebih membumi dan dapat diterima.

Dari sudut pandang film itu sendiri,  (yang jelas saya bukan pakar film yang mengerti teknik film/sinematografi lo ya) dari pandangan saya yang awam film ini juga luar biasa. Film yang untuk saya  tidak dibuat asal-asalan, scenario yang “maksa”, aktor dan aktris yang “ngga banget”, dan lain sebagainya. Dalam berbagai hal, sebagai orang yang awal film, mulai dari visualisasi, penempelan lagu, skenario dan juga Acting para aktor dan aktris di film ini keren banget. Hampir seluruh pemerannya benar-benar ok. Spesial saya mengacungkan jempol pada Cut Mini dan Ikranagara. Andai ada yang agak kurang pas, justru peran Tora Sudiro yang buat saya ngga pas, meski tidak berarti jelek. Anak-anak debutan yang memerankan Laskar Pelangi juga keren. Soundtrack nya juga top. Asik lah pokoknya.

Mungkin ada beberapa hal yang agak mengganggu. Tentang Flo yang menghilang, tentang Ikal yang “bling-bling” jatuh cinta yang divisualisasikan dengan bunga-bunga dan barang-barang yang berjatuhan, tentang ritme yang diawal agak lambat lalu diakhir banyak lompat-lompat, atau saat Mahar menyanyi lagu Seroja dan anak-anak laskar yang menari dengan tidak harmonis, tapi buat saya secara overall tidak benar-benar mengganggu.  Mungkin saya sudah kadung terkooptasi oleh nilai-nilai bukunya. Tapi yang jelas, dimata saya andai ada yang tidak pas, tidak mengurangi keindahan film ini.

Well, andai saya diminta menuliskan, inside apa yang saya peroleh dari film itu, maka waktu 24 jam pun sepertinya tidak cukup.Tapi setidaknya, film ini menyampaikan inspirasi yang luar biasa. Tentang pentingnya penggapai mimpi dan cita-cita, tentang perjuangan, kerja keras dan pantang menyerah, tentang pentingnya kecintaan terhadap profesi yang kita geluti, tentang komitmen dan konsistensi, tentang team work dan trust kepada team, tentang AHA (baca : ide kreatif nan cerdas), tentang ketulusan, tentang banyak memberi dan bukan banyak menerima, tentang akhlak dan budi pekerti dan serangkaian hikmah lainnya.

Film ini juga telah menyentil banyak hal. Pesan bagi para pendidik di negeri ini tentang spirit sebenarnya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, pada orang tua dan anak-anak tentang pentingnya  pendidikan, pada lembaga dan aparatur pendidikan yang diamanahi rakyat mengurusi sistem pendidikan kita, pada pemerintah bahwa ternyata pemerataan kesempatan untuk mendapat pendidikan yang telah diamanahi oleh UUD, pada para industrial agar lebih membuka mata untuk berbagi dan tidak hanya mengeruk kekayaan alam, dan lain sebagainya. Film ini kaya dengan pesan, inside, sentilan, kritikan, dan juga semangat, motivasi, dan sebagainya.

Makanya, nonton deh. Dibilang promosi juga saya rela. Film ini benar-benar layak tonton. At least, silahkan bandingkan dengan pilihan tontonan lainnya seperti yang diulas oleh mas denny :) . Atau sudut pandang olie yang melihat langsung ke Belitong (ini bener bener niat apa kebetulan liburan buk? hehehhe). Secara lebih rapih, review aldi , savaat,  atau nightblackbox mungkin lebih enak dibaca.

Akhir kata, pendidikan itu penting Boy…! Dan yakinlah, bahwa mimpi itu bisa digapai dengan segala keterbatasan, selama kita yakin dan berusaha.

Selamat menonton!

15 Responses to “Laskar Pelangi the movie : Oase ditengah Sahara Film”

  1. > pesan bagi para pendidik di negeri ini tentang spirit sebenarnya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa

    Tanpa mengurangi rasa hormat pada profesi guru, namun aku pribadi melihat adanya pergeseran motivasi pada profesi ini. Kerasa banget gimana guru2 jaman dahulu, yg kebetulan aku pernah diajar, dgn guru2 jaman sekarang. Guru2 jaman dahulu, rasanya masih pantas diberi gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Bener2 ikhlas menjalani profesinya, bener2 tulus mendidik (bukan sekedar mengajar) para anak didiknya, bahkan kadang justru berkorban demi profesi dan anak didiknya. Tapi guru sekarang? Kok rasanya udah gak begitu lagi. :( Apalagi sejak profesi guru semakin dihargai (baca: dibayar lebih mahal), rasanya motivasi guru gak ada bedanya dgn karyawan. Tentu saja gak semua guru sekarang begitu, pasti ada “oknum” yg bener2 menjalani profesinya scr tulus, ikhlas, dan rela berkorban.

    Mudah2-an penilaianku ini salah, justru aku lebih senang. ;)

  2. > Akhir kata, pendidikan itu penting Boy…! Dan yakinlah, bahwa mimpi itu bisa digapai dengan segala keterbatasan, selama kita yakin dan berusaha.

    Hmm, ane sendiri belum nonton sih, mungkin setelah balik dari Jakarta ini, but mendengar dari cerita orang-orang, guru sebenarnya justru cuman merupakan salah satu faktor. Masih banyak faktor yang lain, justru yang perlu dibenahi disini adalah faktor Sistem, dan siapa yang bisa merubah sistem ? kalau ditarik keatas ya pemegang kebijakan yaitu DEPDIKNAS. Banyak dari sisi filim tsb (katanya) “menyentil” Depdiknas. Sistem yang baik dibentuk, ditunjang dengan kesadaran setiap element sistem, waaah pasti ciamik. Karena menurut “kami” (you know lah), kalau di Indonesia sistem pendidikannya udah ciamik, maka permasalahan bangsa ini tentunya akan beres, sistem pendidikan yang baik merupakan investasi jangka panjang dan solusi dari carut marutnya bangsa ini

  3. haha haha
    batal dapat tiket atau GAGAL dapat tiket? hihi just kidding

    Laskar Pelangi, Naga Bonar (Jadi 2), dan Ayat-ayat Cinta adalah 3 film paling top di Indonesia.

  4. Hai…

    Tadinya saya mau menulis panjang lebar tentang Laskar Pelangi di blog saya. Tapi ketika saya baca tulisan ini, saya jadi berpikiran jahat, “Apa saya copy paste aja, ya?”
    Karena apa coba?
    Karena apa yang kamu tulis adalah sama persis seperti yang saya rasakan!
    ahahahaha….

    Tapi tenang saja, saya nggak akan copas, kok… :)

    Nice writing!
    Keep doing it! :D

    Salam,
    LALA

  5. hei…
    tulisan yang bagus
    saya sdh membaca novelnya,tapi blm sempat liat filmnya
    setelah membaca tulisan anda, keinginan untuk nonton jadi besar bgt nh…

  6. Wadoh … bukan tipeku nih filem.

    Anakku (6.5 taun) sekarang sedang baca novelnya & ngotot minta diajak nonton di bioskop :-(

  7. Ada yang tertinggal mas;

    Si guru Bakri yang sejak dulu kala di senandungkan bung Iwan Fals ternyata mengingkari kodrat nya menjadi “oemar bakri” yang sesungguhnya.
    Waktu awal aku sempet nebak, bahwa yang menjadi “actor/lakon” guru nya dalam Laskar Pelangi ini adalah Bakri. Ternyata bu Mus yang malah luar biasa meng iris2 hati aku.
    BTW, Laskar Pelangi merupakan salah satu film yang “masuk” di hati saya. Sukses dah….

  8. Salut buat LP *versi novel maupun movienya*

    cuman kok ya kurang minat nontonnya yak :D hehehe

  9. ada dua hal yang aneh buat gw di film itu do:

    1. waktu si flo ngasih national geographic ke mahar. perasaan national geographic bahasa indonesia itu baru muncul beberapa tahun belakangan. masa di tahun 1970 udah ada?
    2. penggunaan kalkulator di SD PN Belitong. perasaan terlalu canggih banget kalo pada masa itu anak SD udah pake kalkulator deh.

    tapi, tetep aja film ini menarik banget buat ditonton. menghibur sekaligus membuat terharu.

  10. @ Bee:

    Tapi guru sekarang? Kok rasanya udah gak begitu lagi. :( Apalagi sejak profesi guru semakin dihargai (baca: dibayar lebih mahal), rasanya motivasi guru gak ada bedanya dgn karyawan

    Saya coba menanggapi Mas Bee.

    Beberapa waktu lalu, saya pernah jadi guru di Indonesia. Kebetulan keluarga saya ini mirip keluarga guru. Ibu saya guru, istri saya guru, sampai mertua saya pun guru.

    Saya mengajar pada beberapa kampus di RI. Kadang swasta, kadang negeri.

    Di kampus swasta, gaji saya tidak cukup untuk menafkahi keluarga. Kalau istri tidak kerja, mungkin kami susah untuk hidup layak sebagai manusia. Yang tidak hanya butuh nasi sebagai penyambung hidup.

    Di kampus negeri, lebih parah lagi. Selain tuntutannya berat, fasilitas pun tak kalah mengerikannya. Untuk menjadi dosen tetap pegawai negeri, banyak sekali jenjang yang harus dilewati. Hingga saya pikir, apakah mungkin hanya-untuk-jadi-guru-tetap harus menjilat celana atasan hingga bersih, ketika ia buang air besar di celana.

    Saya bisa bertahan hidup. Jadi guru di RI, karena tabungan yang saya kumpulkan ketika saya masih bekerja jadi TKI. Ketika tabungan habis, berhentilah saya jadi guru. Dan saya pun tidak apa-apa kalau ada orang yang menuduh saya oportunis karena pernyataan ini. Sebab menurut saya, jadi guru di RI itu berat.

    Beberapa rekan saya, tidak bisa hidup main-main seperti saya. Mereka tidak punya banyak pilihan selain jadi guru. Mengeluh betapa beratnya beban hidup sehari-hari, jadi kepala keluarga dengan nafkah hanya dari menjadi guru.

    Mereka mungkin adalah ‘oknum’ seperti yang anda tuliskan. Namun percayalah, di hati mereka masih ada keinginan untuk membuat anak didiknya adalah manusia terbaik.

    Namun, realita kadang menghentikan ke’oknum’an mereka.

    Namun kalau memang cerita saya ini memang kurang meyakinkan, ini ada sekelumit kisah nyata Reza. Salah seorang sahabat saya yang menjadi guru di RI. Dipecat setelah 1,5 tahun bekerja dengan bayaran 200 ribu per bulan di Univ Atmajaya, Jakarta. Gara-gara gagal psikotes yang tak jelas rimbanya.

    Tidak banyak orang yang tahu, bahwa ia menolak pekerjaan di sebuah negara maju di Eropa, hanya untuk menjadi guru di RI dengan bayaran 200 ribu perbulan.

    Dan ini tulisannya ketika mereka (institusi pendidikan), menghancurkan keyakinannya akan sebuah pendidikan yang baik bagi anak negeri.

    Terimakasih, dan maaf lahir batin kalau ada salah kata.

  11. @bangaip:
    Waduh, saya merasa terhormat komentar saya ditanggepi bang Aip. Bukan, bukan krn bang Aip seleb blog, tapi saya yakin bahwa bang Aip ini seorang yg punya wawasan luas dan pengalaman hidupnya banyak. Ada banyak hal yg bisa saya pelajari dari tulisan2 bang Aip. Terima kasih atas tanggapannya, bang. :)

    Mengenai profesi guru, saya juga boleh dibilang berasal dari keluarga guru. Ibu saya mantan guru, yg kemudian berhenti untuk menikah. Dua bibi saya jadi guru. Dua paman saya juga guru. Semuanya dari pihak ibu. Dan, dua adik perempuan saya, juga sudah jadi guru. Terakhir, seorang adik ipar saya, juga guru. Selama kurang lebih 5 tahun, saya dibesarkan oleh bibi saya, yg juga jadi guru. Bahkan selama 3 th dari 5 th tsb, saya tinggal di perumahan guru, di rumah bibi tsb, di belakang sekolah yg saya jadi murid di sana. ;)

    Justru krn melihat org2 yg saya cintai tsb, saya gak mau jadi guru. Walaupun saya suka berbagi ilmu, tapi saya gak suka mengajar, bawaannya emosi melulu. :D Saya gak bisa sesabar, sesederhana, seikhlas, dan sebaik anggota2 keluarga saya yg menjadi guru. Kasarnya: saya pengen kaya! :D

    Bibi saya pernah bilang ke saya, “Kalo kamu pengen kaya uang, jgn jadi guru, jadi pengusaha aja. Tapi kalo pengen kaya hati, jadilah guru”. Dan saya memilih yg pertama. Beliau juga pernah bilang, profesi guru bukan untuk mencari uang, tapi malah berbagi uang. Bibi saya membiayai hidup beliau bukan dari gaji gurunya (walaupun beliau sudah jadi PNS), tapi dari usaha buka toko kecil2-an. Gaji guru beliau justru beliau pake untuk membiayai anak2 asuh yg gak mampu sekolah krn kurang biaya. Bahkan, ongkos pertama saya berangkat kuliah adalah pemberian guru bhs Inggris SMA saya (saking kerenya ortu saya waktu itu). Bang Aip bilang di posting terakhir di blog bang Aip, inilah potret bangsa yg gagal. :(

  12. Wah kesan kita sama ya uda Edo :)
    Memang kalau dilihat dari beberapa sisi, film LP ini tidak begitu bagus. Misalnya; akting anak-anak nya terkesan kaku di awal film.
    .
    Tapi kalau kita fokus ke pesan yang ingin disampaikannya – ini adalah salah satu film paling luar biasa yang pernah dibuat oleh anak bangsa.
    .
    Selesai nonton film, anak saya (6 tahun) bertanya2 banyak sekali :D
    .
    Mudah-mudahan makin banyak film Indonesia berkualitas yang seperti ini (dan bukan film-film picisan yang malah membuat kita makin bodoh itu)
    .
    justru yang perlu dibenahi disini adalah faktor Sistem, dan siapa yang bisa merubah sistem ? kalau ditarik keatas ya pemegang kebijakan yaitu DEPDIKNAS
    .
    Sebetulnya, pak Har itu secara tidak langsung menyentil kita semua. Para Orang tua :)
    .
    Saya mengamati sendiri kelakuan para orang tua di sekitar saya — tidak peduli dengan anaknya, lepas tangan terhadap perkembangan anaknya di sekolah, menilai kualitas sekolah dari fisik / penampilan (!!), dan yang paling parah, menilai kesuksesan anak dari nilainya di sekolah.
    .
    Sounds familiar ?
    .
    Di Inggris juga kejadian serupa.
    Kalau terlalu banyak murid yang lulus ujian akhir — dituduh ujian dipermudah.
    Kalau terlalu banya murid yang tidak lulu ujian akhir — para orang tua tetap menjerit juga, menuduh bahwa ujian keterlaluan sulitnya.
    .
    Dagelan :)
    .
    Jadi, Diknas itu sebetulnya cuma cerminan kita, para orang tua.
    Saya dilihat aneh ketika saya menyatakan bahwa saya tidak peduli dengan nilai raport anak saya. Bagi saya yang penting adalah anak telah memberikan segenap usahanya — itu saja.
    Dan itu adalah hal yang aneh, ternyata :)
    .
    Jadi, … mari kita mulai mendidik para orang tua di sekitar kita.
    (nggak tahu saya apa lagi solusinya selain itu, he he)

  13. waktu si flo ngasih national geographic ke mahar. perasaan national geographic bahasa indonesia itu baru muncul beberapa tahun belakangan. masa di tahun 1970 udah ada?
    .
    eh, perasaan NatGeo nya itu yang versi Inggris deh?
    Apa saya salah lihat?

  14. #sufehmi. bisa jadi saya yang salah liat. seinget saya sih national geographic-nya bahasa indonesia kok. Kalo gak salah gambar depannya cerita tentang suku asmat ya? CMIIW.

  15. ya memang film yang benar-benar menarik dan bagus. cuman lebih bagus novel nya dari pada filmnya

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>