devide et impera
Baru 1 hari lewat, ketika bangsa ini merayakan hari Pahlawan. Persis 1 minggu ketika nun jauh di Amerika sana rakyat Amerika memilih presiden baru mereka yang mencatat sejarah sebagai pemilu dengan partisipasi aktif masyarakat tertinggi. Belum habis 2 minggu ketika bangsa ini merayakan Hari Sumpah Pemuda. Kita, mereka, merayakan sesuatu.
Apa bedanya? Entahlah. Mungkin hati ini juga sudah terkikis. Tidak ada rasa apapun dihari Pahlawan. Tidak ada gejolak dihari Sumpah Pemuda. Berita dimedia pun masih jauh lebih riuh rendah memberitakan kemenangan Barrack Obama daripada membicarakan Hari Sumpah Pemuda ataupun Hari Pahlawan. Saya baru sadar bahwa kemaren hari pahlawan ketika seorang rekan menelepon, meminta pendapat tentang salah seorang pendekar IT yang dikandidatkan sebagai Pahlawan Masa Kini oleh Modernisator, sebuah lembaga nirlaba yang didirikan oleh pemuda-pemudi sukses seperti Bang Dino Patti Jalal dan Sandiaga Uno. Saya baru inget kalau 28 oktober lalu adalah hari Sumpah Pemuda. Saya malah lebih ingat kalau hari Jumat di minggu terakhir Oktober teman-teman blogger merayakan 1 tahun Hari Blogger di Angkringan Om Gembul.
Saya cinta akan bangsa ini. Sungguh. Kecintaan saya cukup saya yang tahu. Tapi kenapa getaran itu tidak lagi memiliki gejolak tinggi? Seperti eforia ketika saya menonton dan membela MU, Barcelona, atau AC Milan bertanding dengan musuh-musuhnya?
Terakhir, perasaan itu masih membara ketika menonton langsung Uber Cup di Istora Senayan. Menghabiskan suara mendukung Srikandi Indonesia.
Beberapa waktu lalu seorang sahabat merekomendasikan saya untuk membeli sebuah buku, The elephant vs The Dragon. Buku bagus katanya. Bercerita tentang revolusi luar biasa yang membawa India dan China menjadi penguasa baru planet ini.
Tiba-tiba, sebuah pertanyaan yang menggelitik muncul.
Dulu saya pernah menulis tentang Indonesia 3.0, terinspirasi dari orasi Pak Hermawan Kertajaya di acara perayaan 100 tahun kebangkitan Indonesia tentang 2 kekuatan besar dunia, Islam dan China. Dan kedua-duanya ada di Indonesia. Negara ini adalah negara berpenduduk Muslim terbesar, dan negara ini juga didiami oleh masyarakat China terbesar diluar China sendiri.
Lalu saya membaca buku Elephant vs Dragon. Dan saya pun tiba-tiba berfikir, 2 kekuatan inipun ada dan cukup besar di Indonesia. Lihat saja sinetron di Indonesia siapa yang menguasai. Lihat saja toko-toko kain di Mayestik dan industri garmen siapa yang menguasai. Lihat saya pebisnis di glodok, properti, dll. Siapa yang menguasai. Dinegara ini, sangat banyak dihuni oleh masyarakat India dan China.
India dan China, negara yang menurut Reinal Kasali dalam kata pengantarnya di buku tersebut negara dengan geografis yang luas dengan akar budaya yang kuat. India yang pluralis, dan China yang meski lebih homogen, namun keduanya dengan pendekatannya masing-masing mampu besar. Yang satu tumbuh dengan egaliter, yang satu tumbuh dengan otoriter. Yang satu dipengaruhi oleh kekuatan Hindu yang kuat yang satu dengan kekuatan Budha yang kental. Dan kembali, 2 simbol agama itu ada di negeri ini. Lihat saja Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang bersanding megah. Saya tidak tahu lagi jika lalu Yahudi-pun lengkap berada di Indonesia.
Sejak SD pun saya sudah diajari tentang Indonesia yang berada di antara 2 benua, 2 samudra, berada di titik Khatulistiwa, dengan kekayaan alam yang luar biasa. Negeri yang gemah ripah loh jenawi.
Artinya? Negeri ini adalah persilangan, tempat berkumpulnya kekuatan-kekuatan terbesar yang ada di jagat raya ini. Baik dalam perspektif georgafis, agama, ras, suku, dan sebagainya. Pertanyaannya adalah, dengan segala potensi yang dimiliki, kenapa kita masih begini begini saja?
Terlalu banyak borok yang dengan mudah bisa di ungkap. Mari kita mulai dari yang paling segar saja. Ketika kita dipertontonkan sebuah prilaku gentlemen dari Mc Cain yang mengakui kemenangan Barrack Obama, dan mengajak seluruh rakyat Amerika bersatu mendukung sang presiden baru, disini kita diajak untuk melihat secara langsung gugatan, cemoohan, tindakan-tindakan tidak sportif dan destruktif dari berbagai peristiwa pilkada yang tengah berlangsung di republik ini. Sebuah ironi, dari sebuah negeri dengan potensi maha dahsyat.
Pertanyaannya adalah kenapa?
Tiba-tiba saya merinding. Jangan-jangan negeri ini seperti ini karena diisi oleh orang-orang seperti saya. Yang tak lagi ingat dengan Hari Pahlawan dan Sumpah Pemuda. Yang mampu berteriak lebih kencang ketika melihat Leonel Messi atau Christian Ronaldo mencetak gol daripada mendukung tim merah putih berlaga. Seperti ilustrasi Mas Iman tentang Bung Tomo yang tidak lagi diingat dan dikenang.
Saya lama-lama mulai berfikir kebenaran atas statement yang pernah disebutkan oleh seorang sahabat ketika tahun ini semua orang sibuk sikut menyikut menuju pemilu 2009.
“Yang perlu dipilih di pemilu 2009 bukan presiden atau anggota dewan do. Tapi rakyatnya. Siapapun yang memimpin negeri ini akan selalu kesulitan dan selalu salah….” .
Saya pernah mengutip stament Soekarno pernah berstatement tentang JAS MERAH. Jangan Pernah Melupakan Sejarah kata beliau. Saya pun sering mendengar petuah bijak dari guru-guru saya, bahwa Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengetahui jati-dirinya. Dan mengenali sejarah, adalah salah satu kunci penting dalam mengenali jati diri.
Dalam perspektif positif, maka apa yang dimiliki bangsa ini adalah sangat luar biasa. Tiba-tiba sebuah pikiran nakal hadir dikepala ini. Pantas saja negara-negara besar itu takut sekali dengan kita. Pantas saja mereka selalu merongrong, mengganggu, menciptakan situasi ambang dan instabilitas bahkan dalam bentuk bantuan-bantuan yang sama sekali tidak membantu, menciptakan ketergantungan pada mereka, membuat kita tidak bangga pada negeri ini dan lebih bangga menjadi cecurut mereka, memakai produk-produk mereka. Menjadikan kita sebagai kuli dirumah sendiri, sebagai pembeli atas barang-barang yang bahan bakunya kita miliki sendiri. Mereka, tidak pernah ingin bangsa ini besar. Andai Napoleon Bonaparte masih hidup, mungkin saya ingin bilang padanya untuk merevisi kata-katanya tentang China.
Napoleon Bonaparte pernah bilang “Jangan pernah biarkan Naga itu (China) terbangun, sebab kalau ia terbangun dunia akan dibuat sibuk”.
Dan saya akan bilang “Salah Napoleon. Anda salah. Kamu hanya bicara soal Naga. Dinegeriku lebih komplit. Sang Naga dan Sang Gajah ada disini. Sang Singa pun ada. Negerikulah yang harus kau takuti. Karena semua kekuatan ada dinegeriku. Ibarat Yin dan Yang. Negeriku adalah negeri dimana seluruh kekuatan ada…”
Itulah Indonesia yang sebenarnya menurut saya. Andai kita percaya pada hukum keadilan Tuhan, maka kita harusnya yakin bahwa kesulitan dan permasalahan yang melanda negeri ini adalah representatif dari potensi yang ia miliki.
Sejarah mencatat negeri ini tidak mudah di tundukkan. Mulai dari jaman kerajaan dulu-pun, negeri ini sulit ditundukkan.
Faktanya adalah, negeri ini hancur oleh dirinya sendiri.
Itulah kesimpulan sementara saya dalam pencarian tak berujung ini. Negeri ini terpecah belah karena peperangannya sendiri. Perang antar saudara. Sulitnya menghancurkan negeri ini membuat para penjajah berkonsentasi mencari jati diri kita, sampai mereka mendapatkan kesimpulan bahwa menghancurkan Indonesia hanya dapat dilakukan dengan membuat kita berseteru. Belanda, Portugis, bahkan Amerika saat ini mampu “menggantung” nasib negeri ini karena mungkin mereka lebih mengerti siapa kita daripada kita sendiri.
Devide et impera, politik memecah belah yang membuat Belanda mampu bercokol di Indonesia selama 350 tahun, adalah hasil keputusasaan mereka berperang melawan kita, yang menghasilkan penelurusan tentang jati diri.
So, masih kah kita akan bertengkar?
Selamat Hari Pahlawan…
Popularity: 10% [?]
jadi kapan kita buka botol?™ *ngajak tape
di sini, Gajah, Naga, Singa sampai Dinosaurus ada. sayangnya, dalam bentuk yang lucu: binatang sirkus. heheheh…. jadinya ya gitu Do. ditonton dan dikasi tepu tangan. lalu layar ditutup dan semua bahagia. termasuk seseorang di bilik kasir yang tersenyum sambil menghitung potongan karcis…
#dudi : iyo. aku suwe gak ngombe kie. biasane selalu dibayari juragan iku hihihihi..
makane ta pe. ndang sugeh kekeke
#wandi : hihihih… analogi lucu. masuk masuk…
astaghfirulloh……
ojo lali bismillahe lek ngombe
alhamdullilah tape sadar kalo ngombe kudu bismillah disek…
Keneka ragaman, disatu sisi merupakan anugrah, disatu sisi merupakan bencana.
Saking banyaknya, ada naga, ada gajah, ada dinosaurus, ada lalat dsb membuat negara ini menjadi negara yang “munapik”. Negaramu (dan ku) ini sudah menjadi negara munak .. bejat yo ga bejat .. alim yo ga alim .. semua orang tau bagaimana harus berubuat baik, tapi celakanya semua orang pada saat yang sama berbuat tidak baik. HIDUP INDONESIA.
Gajah : Bangga dengan ke”gajah”-annya (ke Hinduan dan budayanya)dan bener-bener praktek
China : Bangga dengan ke”naga”-annya
Amerika : Bangga dengan ke”Amerika”-annya
Indonesia : bangga akan ?
Itulah Indonesia …… (Gaya lagu Indonesia Raya)sambil colek-colek Tape
#epat : beres pe!
#qenthank : gw bangga indonesia apa adanya kok tang
Edo…dimana kamu… aku pingin kenal sama kamu plzzzzzzzzzzzzzz
blog kamu bagus banget… plzzzzzzzzz I need u.
aku juga pernah berfikir kalo indonesia itu memang benar-benar kuat..
dan aku juga bangga menjadi rakyat indonesia bahkan sampai saat ini aku masih bangga akan indonesia…
MERDEKA….
Btul nih gw mo ksi slh 1 conyoh aje
bayangkan klo indonesia msk piala dunia
supporter kita memenuhi stadion luar negeri
tetapiyg ada , supporter club A nggak mau dkt” dgn supporter club B
pdhal 1 negara INDONESIA apa jadinya????
Btul BGT klo yg menhancurkan bangsa ini tuh bukan politik luar negeri
, brg impor dari luar negeri ,dll.
tapi bangsa kita . rakyat kita sendirilah yg menghancurkan indonesia
dgn perbuatan” seperti tawuran , perkelahian antar suku/agama/ras.
buat apa?? apa nggak lebih bagus kalau
si SINGA >DRAGON>GAJAH>ELANG>GARUDA>kbun binatang lain bersatu di kandang sndiri yaitu INDONESIA!!!
merdeka..
satu kata “TOP BGT” saya suka artikel yang seperti ini. yang bisa membangun. agar kita bisa lebih semangat