1000 buku untuk tuna netra

Edo on November 16th, 2008

Saya lupa bermulanya kapan tepatnya berkenalan dengan mereka. Yang jelas, beberapa waktu lalu seorang sahabat mengajak saya datang ke sebuah cafe. “Ada tempat asik, dan yang maen musik keren abis”. Begitu katanya. Pas banget, kita-kita lagi mumet dengan berbagai urusan kantor. Ajakan itu menjadi seperti oase dalam sahara rutinitas pekerjaan. Disitulah saya berkenalan dengan 2 musisi dan teman-teman/komunitasnya yang luar biasa : Endah dan Reza.

Awalnya saya hanya kagum dengan musikalitas mereka. They play the music from their heart. Begitu mereka dalam pandangan saya.  Dan kekaguman saya bertambah ketika akhirnya kita berkenalan, bercerita, dan saya mengetahui bahwa mereka bukan cuma manis bermain musik, tapi juga punya kepekaan sosial yang tinggi.

Mereka belum punya album, secara resmi. Tapi mereka telah membuat album, bukan layaknya musisi membuat album. Mereka membuat album yang mereka “tribute” untuk orang-orang tuna netra. Sayapun makin tertarik dan kagum dengan mereka. Dari situlah saya mengetahui lebih banyak tentang aktifitas mereka di Yayasan Mitra Netra, sebuah lembaga yang mengurusi tentang tuna netra.

Beberapa waktu sejak obrolan perkenalan ringan kami dengan mereka, endah dan reza mengajak saya dan teman-teman berkenalan dengan orang-orang yang membuat saya….. speechless. Endah dan reza mengajak beberapa pengurus Yayasan Mitra Netra itu berkunjung ketempat kami.

Pertemuan saya dan mereka memberikan kesan yang sangat dalam. Saya, dan mungkin mayoritas dari kita mungkin akan menggambil sikap “berbeda” (atau membedakan?) kepada orang-orang yang secara fisik punya kekurangan. Dan diawal pertemuan saya langsung grogi karena mereka, 3 orang yang duduk didepan saya dengan jelas tidak  terlihat (atau memperlihatkan diri) sebagai orang yang memiliki kekurangan dan jelas tidak ingin diperlakukan berbeda. Mereka tidak terlihat seperti orang yang memiliki kekurangan. Well, saya sudah melakukan tindakan salah diawal. Sungguh memalukan.

Obrolanpun mengalir. Dari merekalah saya tahu bahwa jumlah tuna netra di Indonesia ternyata cukup tinggi. Itupun baru dari angka yang “terdata”, karena banyak orang atau orang tua yang masih malu menyatakan anak mereka tuna netra. Dalam perhitungan mereka, angka tersebut bisa mencapai 3 juta jiwa. Dari mereka juga lah saya tahu, bahwa perbandingan jumlah buku yang diterbitkan untuk kita-kita yang diberi indera lengkap dengan mereka yang tuna netra bisa mencapai 1:4000 (i’m not sure with this number. but i will re-check it later). Intinya, mereka tidak memiliki kesempatan yang layak untuk menjadi pintar (baca : membaca buku). Inilah yang mendasari mereka menjalankan program yang mereka namakan “PROGRAM SERIBU BUKU UNTUK TUNA NETRA”.

Beda tipis dengan gerakan 1000 buku yang digagas oleh para blogger BHI yang benar-benar mengumpulkan buku, program mereka adalah membuat buku yang bisa dibaca oleh para tuna netra. Mereka mengetik ulang (bahasa kerennya mendigitalisasikan) buku-buku, yang lalu mereka cetak dalam huruf braille. Dan awalnya, sebelum adanya beberapa relawan yang membantu mereka, mereka mengetikkannya sendiri. Yup. Orang buta mengetikkan buku untuk orang buta.

Saya awalnya masih “hanya”  tergeleng-geleng dan mangut-mangut, meski sudah agak terbiasa dengan data-data ini karena bertahun-tahun berurusan dengan Departemen bernama Departemen Pendidikan Nasional. Dalam hati saya bergumam ” Yah pak, jangankan buat tuna netra. Wong buat pendidikan secara umum, meski anggaran pendidikan telah naik jadi 20% dari APBN, tetep aja pendidikan di negeri ini belum terurus dengan baik. Wajarlah orang-orang tuna netra kurang diperhatikan”.

Dan “gumaman” ini adalah hal bodoh (meski cuma dalam hati) berikutnya yang saya lakukan.

Pukulan telak lahir di pembicaraan kami berikutnya ketika obrolan sudah berubah menjadi obrolan ngalur ngidul. Kami ngobrol mulai dari urusan politik, ekonomi, sosial budaya, sampai teknologi. Dan tiba-tiba saya, yang dari lahir menikmati indera yang lengkap dan bekerja dengan baik ini, yang berkesempatan untuk membaca buku apa saja, yang menikmati kecanggihan teknologi sehingga bisa mendapatkan ilmu apa saja, dari mana saja dan dari siapa saja hanya dengan berada di depan komputer,  kalah kelas dan pengetahuan dari mereka yang jelas-jelas tidak bisa melihat!.

Mereka tahu lebih banyak tentang situasi politik saat ini. Mereka berbicara tentang budaya jauh dari apa yang saya tahu. Pribadi ini masih ngeles. “Ya iya lah. gw kan anak teknik. sekarang lagi belajar bisnis. Pelaku IT. soal politik dan budaya kan bukan bidang gw”.

Tapi saya tidak lagi berkutik ketika tahu bahwa Pak Irwan, salah satu tuna netra yang duduk di depan saya ternyata pernah membuat software yang berfungsi seperti pengubah font, sehingga tulisan latin yang kita ketik berubah menjadi huruf braille. Ibu disebelahnya bercerita tentang keluhannya mengenai developer-developer website yang tidak memenuhi kaidah accessibility yang dikeluarkan oleh W3C (IMHO, W3C adalah sebuah lembaga konsorsium yang dibentuk oleh para webmaster, yang mengeluarkan standarisasi pengembangan website yang baik dan benar), sehingga website-website yang ada sulit untuk dibaca oleh para tuna netra. Mereka mendapatkan training di Thailand mengenai standarisasi ini, dan mereka mengembangkan website nya sendiri. Mereka juga bercerita tentang kiprah Eko Ramaditya, Blind blogger kiprahnya sudah kemana-mana.

Dug!. Tiba-tiba saya jadi sulit bernafas. Sebuah pukulan telak hadir dan menyesakkan paru-paru ini.

Saya, lulusan elektro, yang katanya sejak tahun 97 menggeluti IT, dan bertahun-tahun bergerak dibidang web development, yang ngakunya pernah membuat puluhan web (meski yang bikin bukan saya, tapi teman-teman 1 team), jelas-jelas melek, bla bla bla bla…..mendapat penjelasan bagaimana membuat website yang baik dari mereka.

Tiba-tiba saya melihat diri saya sendiri didepan mata, tersenyum mengejek sambil berkata “kemane aje lu Dooooo”.

1 kata yang paling tepat menjelaskan perasaan saya waktu itu.

MALU. Saya malu…

Sepertnya saya harus belajar dari buku Eko Ramaditya. Berdamai dalam kegelapan. Karena sepertinya sayalah yang “gelap”, bukan Rama.

Kejadian ini telah terjadi beberapa waktu yang lalu. Dan saya butuh waktu beberapa lama, untuk membuat pengakuan yang memalukan ini. Lalu kenapa saya sekarang menuliskannya? Karena saya fikir, sepertinya tidak sedikit orang yang seperti saya. Orang yang telah menyia-nyiakan pemberian Tuhan yang luar biasa, tapi tidak memanfaatkannya dengan sebagaimana mestinya. Orang yang diberi kelengkapan indera, 2 mata yang mampu melihat dengan baik, tapi masih saja malas baca buku. Orang yang dari 16 jam matanya “melek” dan terbuka, dan mungkin tidak ada 1-2 jam yang dialokasikan untuk membaca. jauh lebih sedikit daripada waktu yang saya gunakan untuk melihat paha dan belahan dada.

Dan saat itu didepan saya, duduk 3  2 orang buta dengan keterbatasannya fisik dan berupaya sedemikian rupa untuk memperbanyak sumber pengetahuan yang bisa dinikmati oleh orang-orang tuna netra.

Pertemuan itulah yang menghadirkan sebuah ide nakal yang datang dikepala. Mempertemukan mereka dengan “tetangga sebelah”.

Tentu bukan saya yang berencana bertetangga dengan mbah-mbah blogger seperti ndoro kakung atau paman tyo, dan para dedengkot dagdigdug. Buat saya sih itu berkah, bertetangga dengan tokoh-tokoh yang saya kagumi, dan punya kesempatan untuk menimba ilmu dari mereka. Woro-woro soal pesta blogger juga terdengar ketempat kami bernaung. Sebuah perhelatan besar para blogger di Indonesia yang mengusung tema yang menyejukkan hati : Blogger for Society.

Tentu juga bukan saya yang merencanakan, ketika tiba-tiba di depan parkiran kantor hadir angkringan wetiga. Bertemu jurangan angkringan yang bersama komunitas BHI meluncurkan Gerakan Seribu Buku. Komunitas yang sama yang setahun yang lalu sudah saya dengar sepak terjangnya melalui program “kambing” Bangsari.

Thank God. Saya adalah orang yang beruntung. Berada tidak jauh dari orang-orang hebat. Pesta Blogger, Blogger for Society, Komunitas BHI, Program Seribu Buku, tiba-tiba menjadi sebuah benang merah. Jumat lalu pak juragan angkringan mengijikan teman-teman untuk menaruh brosur PROGRAM SERIBU BUKU UNTUK TUNA NETRA dan menjual CD ANGINPUN BERBISIK di acara yang dihadiri oleh Pak Duta Besar. Hari ini saya membaca Endah dan Reza diberikan waktu untuk “manggung” diacara Pesta Blogger, dan memperkenalkan Album Anginpun berbisik.  Sedikit mengulang, SELURUH penjualan album itu disumbangkan untuk kepentingan kegiatan Yayasan Mitra Netra.

So, bagi yang memiliki dana dan mendengarkan musik yang berkualitas sekaligus menyumbang 100% uangnya untuk kegiatan Yayasan Mitra Netra, bisa membeli CD Anginpun Berbisik. Bagi yang hadir di Pesta Blogger insyaallah bisa membelinya pada saat acara. Yang ngga punya duit tapi ingin membantu? Silahkan bergabung menjadi relawan program SERIBU BUKU UNTUK TUNA NETRA.

Mau pilih dua-duanya? Its better!

Sampai ketemu di Pesta Blogger!.

Ps : Beberapa teman blogger yang juga menulis tentang program 1000 buku untuk tuna netra : RoniFarisRabindraDidit sofwan, fani,

Popularity: 5% [?]

5 Responses to “1000 buku untuk tuna netra”

  1. Terimakasih sharingnya uda Edo. Luar biasa, bersyukur sekali sampeyan mendapat kesempatan tersebut. Dan saya bersyukur sampeyan mau menyempatkan untuk sharing pengalamannya :)

    Memang accessibility itu sayangnya masih terlewat oleh banyak web developer kita. Soal ini masih belum masuk di dalam “radar” mereka.

    Padahal di luar negeri, sampai sudah ada peraturan bahwa website institusi itu musti “accessible”. Yang melanggar maka siap-siap dituntut ke pengadilan, karena ini dianggap sebagai salah satu bentuk diskriminasi ! :D
    Sedap kan…

    Jadi memang besar sekali hikmah untuk compliant dengan web standards (XHTML, CSS, dll), seperti :

    1. Accessible : jadi bisa diakses oleh orang buta sekalipun

    2. Mobility : jadi bisa diakses dari handphone / smartphone dengan mudah :D
    Paling cuma perlu membuat satu CSS khusus untuk handphone - selesai. Tidak perlu membuat ulang lagi situsnya.

    Kalau poin nomor 1 tidak menarik, mungkin poin nomor 2 perlu dipertimbangkan secara serius. Karena dari statistik Google, Indonesia adalah negara 5 besar di DUNIA dalam jumlah pengakses internet via handphone…. !

    Dahsyat lho Indonesia ini sebetulnya, he he.

    btw; saya melihat2 daftar buku yang ingin di digitalisasi oleh Yayasan mitra netra, dan saya lihat ada banyak buku-buku berbahasa Inggris. Mudah-mudahan mereka sudah tahu mengenai Project Gutenberg. Disitu ada ribuan buku gratis dalam format eBook.
    Mungkin sih sudah tahu, but just in case…

    Sekali lagi, terimakashi sudah sharing yaa..

  2. #sufehmi : wah uda, thank for comment.
    tentang mobility dan accessibility, no comment deh :). just trying to do better and better aja to serve :).

    soal buku, saya akan kabari kepada mereka.
    as they said, penerbit luar negeri memang lebih aware. mereka bahkan dapat izin langsung dari penerbit harry potter untuk mem-braille kan buku mereka. penerbit indonesia? hmmm.. masih takut dokumennya disalah gunakan. susah juga sih, negara ini kadung jadi negara yang apriori. niat baik tidak cukup untuk meyakinkan orang :)

    issue lebih besar setelah digitalisasi itu sebenarnya adalah, ya ngga jauh2 dari cost. mereka bilang, 1 buku harry potter versi normal dengan versi braille 1:16. artinya 1 buku normal jadi 16 buku braille hehehhe.. bayangkan saja costnya. belum bahan kertas yang juga berbeda, kl ngga salah 1 USD per lembar (lembar besar maksudnya. ngga tau ini ukurannya A0, A1, A2 or apa).
    so, dana tetep jadi issue heheheh….

  3. edooo my broooooo!!! iiih.. minggu-minggu ngantooor… hihihi.. :)
    btw, waktu itu yang ke kantor tuna netranya cuma 2. satu lagi mbak Yati, dari mitra juga, yang biasa nemenin Pak Irwan dan Mbak Aria kemana-mana.. hihi.
    tapi seru ya, waktu denger Pak Irwan cerita sebelum ke kantor, beliau mempelajari peta dulu lewat gps. itu komputer di Mitra yang nunjukin peta jalan buat tuna netra. hihihi.. canggih!

  4. #endah : yah, kura-kura. pan ente tau jam kerja kite aneh hehehhe…
    btw, thank buat revisinya. gw dh benerin :p

Trackbacks/Pingbacks

  1. Dijual : CD Musikalitas “Anginpun Berbisik” 100% Donate!

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>