siklus
Hari selasa lalu saya bertemu seorang teman Setelah berkali-kali janjian dan selalu batal, akhirnya kami bertemu disalah satu cafe di daerah SCBD. Teman saya ini adalah seorang pebisnis enterpreneur sukses, setidaknya dimata saya. Selain menjaga silaturrahmi, saya memang membawa misi bertemu dengannya. Untuk berguru. Lain waktu saya akan menuliskan, kenapa lalu saya secara khusus ingin menggali ilmu darinya.
Berbagai topik kita diskusikan. Tema diskusi lebih ke arah bisnis. Menertawai kesulitan masing-masing, meski dengan skala yang berbeda. Ternyata meskipun tidak ber impact langsung, krisis global yang terjadi belakangan ini ikut mempengaruhi usaha masing-masing. Minimal, impact-nya adalah menurunnya kesempatan pekerjaan, dibatalkannya beberapa proyek yang awalnya berpotensi diraih, belum jelasnya estimasi pekerjaan ditahun depan, dan yang paling jelas, banyak sekali tagihan yang telat dibayar oleh client bahkan sampai berbulan-bulan karena (mungkin) mereka sendiri mengalami permasalahan yang sama.
Disalah satu topik pembicaraan, rekan saya ini berkata :
“Bisnis itu punya siklus Do. Terutama diawal-awal bergeraknya. Goncangan besar Pertama biasanya hadir ketika perusahaan tersebut memasuki umur 2 tahun jalan. Biasanya 2 tahun itu targetnya adalah survive. Dari situ normatifnya hanya 10%-an yang mampu bertahan, dan sisanya kolaps. Bagi yang berhasil mereka akan masuk ke fasa growing up.”
”Goncangan berikutnya akan hadir ketika usaha mulai memasuki umur ke 5. Sama halnya dengan yang tadi, normatifnya hanya 10% yang mampu bertahan. Mereka yang bertahan akan memasuki fasa firming. Then, ketika perusahaan memasuki tahun ke 10, hal yang sama kembali terjadi. Dan yang lolos setelah mengalami ujian inilah yang akhirnya benar-benar menjadi sebuah perusahaan yang establish, meski gocangan berikutnya akan selalu ada…”.
Saya jadi ingat omongan salah satu guru yang lain ketika saya dan beberapa teman terlibat dalam membangun dan menjalankan sebuah Yayasan. Persis sama. Beliau bicara kepada kami ketika Yayasan tersebut memasuki umur 2 tahun.
Seorang guru yang lain juga pernah berbicara tentang Golden Age, siklus hidup manusia, titik dimana keputusan penting harus diambil, dan itu menentukan siapa kita dimasa berikutnya.
Kakak saya dibeberapa kesempatan juga bercerita tentang siklus hidup terkait masalah pubertas. Bercerita kenapa banyak rumah tangga goyang ketika baik si istri maupun suami tiba-tiba memasuki masa “ganjen”nya, menjadi genit, ketika memasuki umur antara 32an tahun atau 40an tahun, sama halnya kenapa remaja diumur 17an tahun menjadi semakin ingin mengenal lawan jenis, atau ketika memasuki umur 25 tahun memiliki kecenderungan untuk firming relationship.
Hal yang sama ketika dia dan saya berdebat tentang “life begin from 40“. Ketika dia mencoba memberikan data-data ilmiah tentang siklus IES (Intelectual, Emotional & Spiritual) manusia. Menjelaskan kenapa anak balita diumur tertentu perlu diperhatikan karena itu adalah masa pertumbuhan terbaiknya, menjelaskan bahwa umur 25an tahun adalah titik puncak kecerdasan intelektual manusia yang lalu setelah itu akan memiliki kecenderungan menurun, lalu diumur 30an emosional akan mulai pengambil peran, dan mengalami kematangannya di umur 40an tahun.
Dari kesemua itu, ada 1 hal yang sama. Bahwa ada siklus dalam hidup manusia dan ciri ketika siklus itu tiba adalah hadirnya goncangan yang dahsyat.
Paulo Coelho dalam buku The Alchemist, Hidetoshi Honda, Henry Ford, pernah bicara tentang sukses dan putus asa. Bahwasannya keberhasilan itu jaraknya hanya sejengkal dari titik dimana kita merasa ingin menyerah.
So? Thats all just look like a number. But its depend on us to believe or not.
Tiba-tiba teringat salah satu ayat dalam kitab suci ..
“Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan-Nya) bagi kaum yang memikirkan.”
*yang pengen 2008 segera berakhir…
Popularity: 6% [?]
32-an taun tambah ganjen yax? hmmm… brarti gwa harus pasang tali kekang buat kalian biar ga pada melintir lirak-lirik mbak2 putih mulu. you know what i mean with ‘kalian’ kan?
*puter2 piso lipet*
wedew klo thun 2008 brarti saya udah hrus siap2 menyongsong etape umur baru nich meninggalkan masa remaja *halah*
loh yaaa… sido tah ngopine iku? gak ajak-ajak kie…
duh.. semakin menua saja ya….
sabar and terus berjuang ya….
dream come true
huehehehehe
kalo tiap jalan isinya goncangan terus do? itu karena apa?
waw…..
Kemarin di acara Fresh 4.0, saya juga menemukan berbagai hal yang menarik dari sesama rekan pengusaha. Salah satunya Chandra Marsono, disitu dia blak-blakan mengakui bahwa dia membayar freelancer nya maksimum 30% dari nilai proyek.
.
Awalnya kaget juga, kok nilainya (sekilas) terlihat kecil.
.
Tapi kemudian saya sadar bahwa kita, pengusaha, juga mengeluarkan berbagai biaya-biaya & effort lainnya yang tidak kalah besar. Seperti invoicing, billing, customer service, project management; belum lagi waktu terpakai untuk meeting-meeting, pitching, dst.
.
Jadi kalau freelancer kita bisa bebas dari semua itu, maka tentu biaya-biaya untuk itu jadi hak kita.
.
Mas Chandra kemudian melanjutkan bahwa maksimal cost yang dikeluarkannya pada suatu proyek adalah 60% dari nilai proyek ybs. Ini karena profit tsb (40%) bukan murni profit - tapi masih harus dikeluarkan lagi untuk pajak, overhead perusahaan jika sedang sepi proyek, pengembangan perusahaan, dst. Dan itu semua tidak murah.
.
btw; Terimakasih banyak untuk sharing di artikelnya ini ya. Keep on sharing uda Edo.
he eheheh
Salam kenal ya mas,
Hehe..ga sengaja nemu webnya, habis ngetik key word “bahagia”.
Hopefully, everyday is a gift
and we just feels Happy!!! ;D