keyakinan : hakikat dan syariat
Tengah malam. Dan malam itu saya masih seperti biasa, tidak bisa tidur. Beberapa waktu belakangan ini memang insomnia saya semakin parah. Banyak hal berputar-putar dikepala ini. Dan malam itu, seorang sahabat muncul di instant messanger saya.
Kita berdiskusi tentang pekerjaan. Dan tiba-tiba dia bertanya, apa yang saya rencanakan tahun depan. Spontan saya menjawab, saat ini kepala saya berada di hari ini, dan esok.
Saya punya rencana tentang tahun depan. Tapi saat itu saya berfikir, tahun depan tak kan ada tanpa melewati tahun ini. Dan diskusipun mengalir…
Sahabat saya bicara soal keyakinan. Pesan yang saya tangkap adalah, saya harus memiliki keyakinan bahwa apapun yang ada dikepala saya saat itu mampu saya lewati, dan fikirkanlah hari esok.
Seperti biasa. Saya menerima, meski juga menolak. Entah kenapa ketika pembicaraan berada diarea “langitan” seperti ini saya punya kecenderungan untuk mendengar jika hal itu keluar dari mulut sahabat saya yang satu ini. Meski saya juga sadar, hal ini tidak baik bagi saya maupun dia. Karena saya jadi tidak mampu berdiri sejajar,dan menjadi teman yang baik baginya ketika dia, yang juga manusia berada di sisi manusianya.
Kenapa saya menolak?
Saya sepakat bahwa keyakinan adalah dasar. Trust, keyakinan, adalah pondasi dalam berbagai perspektif perjalanan hidup. Dalam ajaran yang menempel sejak saya lahir, mungkin ini bisa disetarakan dengan syahadat. Dan sejauh yang saya tahu, rukun pertama itu diikuti oleh 4 rukun lainnya. Dan 4 rukunlainnya itu dimata saya berbentuk syariat. Perbuatan. Tindakan. Usaha dan upaya.
So, dalam pemikiran sempit saya ini, trust adalah sebuah pondasi. Namun dia harus diikuti dengan menjalankan syariatnya. Tanpa dijalankan secara utuh, maka “bangunan” itu tidak pernah benar-benar menjadi rumah. Penting, tapi bukan segala-galanya.
Tapi sekali lagi, saya sepakat, bahwa keyakinan itu adalah dasar. Syarat nomor 1. Jika syarat nomor 1 ini diletakkan, meskipun syariat lainnya tidak dijalankan dengan sempurna,maka dia akan tetap menjadi bangunan, meski tidak utuh dan tidak sempurna. Tapi jika syarat nomor 1 ini diabaikan, maka syarat lainnya menjadi sia-sia.
Tapi seperti saya bilang tadi, saya cenderung hampir selalu meyakini bahwa ada pesan yang ingin dia sampaikan. Dan saya memahami pesan itu, pada akhirnya ketika melihat kekinian situasi yang saya alami. Karena terkadang, ke-”(rumongso) merasa-tahu”-an kita atas sesuatu terkadang membuat kita menjadi menjadi lupa. Bukankah para orang bijak pernah berkata bahwa kelemahan terbesarmu berada pada kelebihan terbaikmu?
Keyakinan adalah energi. Keyakinan tidak hanya mampu memberikan energi bagi kita, namun juga bagi lingkungan sekitar. Dan ketika perspektif individual ini dibawa kepada kelompok, maka keyakinan itu harus dimiliki oleh setiap komponen kelompok tadi. Keyakinan yang harus benar-benar sama. Keyakinan atas cita-cita, yang dibangun atas keyakinan pada setiap individu yang berada didalamnya. Kekuatan keyakinan itulah yang lalu menghasilkan energi yang maha dahsyat. Ketika dia diarahkan ke titik yang sama, bukan cuma kekuatan yang dia miliki. Namun juga akselerasi yang luar biasa.
Keyakinan akan cita-cita dan keyakinan terhadap komponen yang membangun kelompok tersebut harus berjalan bersama-sama. Selaras. Mutlak hukumnya. Karena jika hanya keyakinan akan cita-cita yang kita miliki, maka hanya akan menghasilkan energi yang “ngelambyar”, yang terpencar-pencar bagaikan rambo yang yang memuntahkan pelurunya seenak udelnya. Tidak bisa seperti energi bom atom yang telah menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki. Dan rambo adalah film, sedangkan Hiroshima dan Nagasaki adalah nyata. Begitu pula sebaliknya. Ketika keyakinan terhadap tim saja yang kita miliki, tanpa ada keyakinan atas kesamaan cita-cita, maka kita hanya akan berakhir seperti sekelompok wisatawan yang nyasar.
Belum selesai ion-ion pengetahuan itu membenturkan diri dan menemukan konstruksinya, kemaren ndoro sebelah “nyampah” tentang hal yang sama. Dan hari ini, seorang guru di bandung sana yang entah kenapa sedang senang mengirim pesan-pesan bermakna tanpa maksud yang jelas (menurut saya) mengirimkan sms yang saya yakin memiliki benang merah dengan hal-hal yang tengah bergulat dikepala saya.
Ah…
Benar kata orang-orang bijak itu. Dia sungguh Maha Pengasih. Tak bosan-bosannya dia memberikan petanda agar aku mengerti. Dan seperti kata-Nya, aku harus berfikir. Karena hanya mereka yang berfikir yang bisa menangkap pesan-pesan-Nya.
Malam itu, ketika mata semakin berat, aku merasa Dia tengah menuding titik kesadaranku yang paling dalam
“kamu bicara tentang hakikat dan syariat. lalu kapan kau terakhir kali menjalankan syariat mu kepada Ku?”
Dan kantuk itu pun hilang. Seperti orang yang tengah diguyur segalon air dingin. Seperti orang yang sedang diam lalu dipukul tepat dikepala. Menohok ulu hati. Menusuk pusat kesadaran.
Popularity: 5% [?]
hari esok musti lebih baik dari hari ini bukan?
jadi mari kita bersenang-senang hari ini….
*lawasisasi…kekeke
assalamu’alaykum…
aih, senangnya dapat comment pertama di blog-ku.
Hwe..he..he, masih primitiv deng.
untuk topik yang ini, hm…
ada 4 tingkatan “pengetahuan spiritual” kan: Syariat- Hakikat- …-Makrifat (wah,yang satu sdng lepas dari memori), Tasawuf ya???!
Dan manusia melewatinya dengan alur yang memang seperti itu, tidak bisa terbolak-balik.
Artinya setelah bisa syariat, baru dia akan memasuki fase dimana dia ingin menggali lebih dalam ke arah Hakikat, dan seterusnya. Tapi, kadang orang sering aneh, mentang2 udah merasa dirinya Hakikat lalu tidak melaksanakan Syariat (ada lho…, banyak malah!), misalnya tidak shalat kecuali setahun sekali.
Nah, ini yang buat orang lain di sekelilingnya kadang ngrasa gerah, dan menjudgement “aneh”.Ya iya, orang kebanyakan kita orang awam, jadi sebaiknya tidak melawan aruslah…
Contohnya kejadian Siti Jenar, yang akhirnya harus “dibunuh” demi menyelamatkan umat yang lain.
Aih…aih..sudah ah,
bener lah bahasa sedehananya temen mas, pertama harus Haqqul Yakin dulu deh.
jadi, bakal nemenin maz epat ke mesjid ni ceritanya?
*spitriding komen*
> Tapi jika syarat nomor 1 ini diabaikan, maka syarat lainnya menjadi sia-sia.
Itu sebabnya Mother Theresa tetep gak akan masuk surga, bagaimana pun baiknya dia pada sesama manusia. Setidaknya gak bisa masuk surga versi Islam.
BTW, percaya = trust, yakin = faith. Jgn salah pake, beda artinya.
uhukk…huk..huk….*terbatuk-batuk*…
ayo kita nikmati apa yang bisa kita nikmati…
#angus, anggep aja kayak mau belok kiri sama kanan ngus. gak ada bedanya. yang penting tetep pake sabuk pengaman aja, biar kalo nabrak tetep aman *lagi gak fokus*
halo, siapa itu yg bilang bunda theresa ga bakal masuk surga? emang anda tuhan kok berani ngomong gitu? emang anda kira surga itu milik orang islam aja? emang anda kira orang yg ga beragama islam itu pasti masuk neraka? jangan fanatik sempit sampe berpikiran picik gitulah.
jadi, anda kira tuhan menciptakan milyaran manusia hanya untuk masuk neraka kelak gara2 mereka ga muslim?
subbenallah… semoga kita diberi petunjuk oleh allah swt pembahasan mengenai syariat itu adalah perbuatan2 jahir/jasad kenapa kita tidak menilik dari bangun tidur kemudian tidur lagi apakah tidak melakukan ibadah ataukah melakukan perbuatan syariat inilah perannya hakikat siapa yang kita tuju hadapan (kibat kita ) Allah atau apakah tuhan lain Allah…..