Ikhlas
2 hari lalu aku mendapatkan sms lucu dari salah seorang guruku di Bandung sana.
begini bunyi smsnya yang cukup panjang itu.
Berita tentang Musa yang mau berjumpa dengan Allah di Gunung Sinai telah tersebar. Si Sholeh dan Pemabuk meminta Musa bertanya kepada Allah, bagaimana nasib mereka nanti di Akhirat.
Setelah perjumpaan Musa dengan Allah selesai, Musa mengabari si Sholeh yang banyak amalnya, bahwa Allah telah menyediakan Surga untuknya.
Si Sholeh bergumam “Sudah kuduga…”.
Kepada si Pemabuk yang tidak pernah beribadah, Musa menyampaikan pesan bahwa Allah telah menyediakan Neraka untuknya.
Lha kok sipemabuk malah tertawa dan menari gembira “Alhamdulillah, Dia masih mengingat pendosa yang hina ini!. Padahal tidak ada yang peduli padaku. Tak masalah tempat seperti apa yang Dia sediakan untukku. Aku senang-senang saja! “.
Ternyata respon-respon mereka ini mengubah nasib mereka di Akhirat. Allah tidak suka kepada si Sholeh yang sudah mengira bisa bersandar pada amalannya. Allah suka pada si Pemabuk yang Ridho apapun yang diberikan Allah padanya.
Demikian dongeng untuk ku hari itu…
Popularity: 5% [?]
“Allah tidak suka kepada si Sholeh yang sudah mengira bisa bersandar pada amalannya. Allah suka pada si Pemabuk yang Ridho apapun yang diberikan Allah padanya” <—- kalimat yang kusuka..
@boday : sejak kapan murtad? wakakaka…..
lek jare mario teguh :
Sampeyan boleh gak nge-reken AKU, tapi jangan sampai AKU gak nge-Reken kamu. Begitu kata Tuhan.
ahhh..dunia
hmm saya ikhlas do.. diajak nendi ae
lah wong mabuk… pantes iso ngomong ketemu musa….
Salah satu kelemahan kita, kaum Muslim khususnya ‘Urang Awak’ ialah kurang menghayati dan mengamalkan ‘keihsanan’ atau ‘keikhlasan’ dalam kita berbuat, apa pun bentuknya. Walau pun leluhur kita sudah mencanangkan ‘Adat bersandi syarak, syarak bersandi Kitabullah’ tetapi lemah dalam pengamalan hidup kita sehari-hari. Contoh sederhana yang kita temui di kalangan kita, rasa ‘kecemburuan’ kalau sanak saudara kita mencoba maju dibidang kekgiatannya, apa lagi kalau kegiatannya sama dengan kita. Contoh lain, kurang memegang ‘amanat’, lihatlah bagaimana nasib ‘Gerakan Seribu Minang’ atau ‘GEBU MINANG’ yang tak tahu ujungnya, pada hal penggasnya bukan sembarang ‘tokoh’. Contoh lain, kurang ‘pengkaderan’, banyak tokoh Urang Awak level Nasional, lalu siapa kader yang disiapkannya untuk penggantinya? Ada struktural keadatan, kelembagaan Minang, Wali Nagari dll. tapi geraknya tak jelas, Tuan Datuknya, ada di Jakarta, anak kemenakannya di kampung, bagaimana dia membina kadernya?.
Ya semua ini harus didasarkan pada ketulusan dan keikhlasan para generasi tuanya untuk menuntun kader mudanya.
kok aku sak pikiran ambek mas boday ya? menarik banget tulisane. Yo opo lek sampean gawe saingan epatisme dengan rusfidology?tambah ajooor dunia heheh salam dari malang
Sebetulnya kita semua tak tahu, siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka…
wah gue jadi takut klo jadi orang tekun ibadah nie.. ha.. ha.. ha..
ato jadi pemabuk aja biar masuk surga.. kwak kwak kwak
Pelajaran yang sangat indah mengenai sombong & ikhlas.
Terimakasih.
a story that really reminds us all
hopefully we’ll always remember God …..