Berqurban (berkorban) dan Berbuat Baik

Edo on December 29th, 2008

Sudah sebulan bersih Hari Raya Qurban lewat. Tidak ada peristiwa besar dalam perjalanan hidup saya di Hari Raya Idul Adha kali ini. Rencana keluarga untuk menjadikan Hari Raya Idul Adha sebagai hari raya besar (kakak saya memiliki argumen bahwa hari raya besar itu sebenarnya adalah Hari Raya Idul Adha, bukan Idul Fitri sebagaimana yang mayoritas dijadikan sebagai hari raya besar bagi umat Islam di Indonesia) dan memilih hari raya ini sebagai waktu untuk pulang bersama pun batal karena kesibukan masing-masing. Kakak saya, yang sudah membeli tiket untuk seluruh keluarga besarnya (Istri dan anak-anaknya) pun membatalkan tiketnya.

Semalam adalah malam sebelum memasuki Tahun Baru Hijriah. Seperti biasa, kami; saya dan kakak-kakak saya berkumpul untuk menyusun resolusi keluarga kami untuk tahun 2009. Sesuatu yang berdasarkan rencana kami dilakukan pada saat “pulang basamo” di Bukittinggi, kampung halaman kami. Tapi karena acara itu batal, maka malam kemaren kami melakukannya.

Disela diskusi tentang resolusi bersama keluarga, dia bercerita tentang makna Hari Raya Qurban tahun ini. Deg. Ada sesuatu dihati saya yang tersenggol. Tidak ada hikmah yang saya dapatkan tahun ini dalam konteks qurban. Yang tersisa hanya ritual : membayar zakat harta, dan ikut patungan untuk membeli kambing qurban. Itupun saya lakukan dengan agak tidak iklas, karena saya fikir tahun ini saya masih belum berada dalam kondisi finansial yang sehat. Saya sudah terjebak dalam ritual belaka. Hal-hal yang dilakukan tanpa makna. Sebuah simbolitas. Sebuah rutinitas. Tanpa rasa.

Salah satu yang dibahas dalam diskusi kami adalah membantu keluarga besar lainnya. Ada peristiwa di keluarga yang tidak perlu saya ceritakan. Intinya, kakak saya mengajak kami untuk sama-sama membantu. Tapi saya tidak setuju. Karena menurut saya, salah satu keluarga besar kami itu tidak pantas dibantu dengan berbagai alasan yang sangat logis menurut saya.

Saya memang selalu komplain kepada kakak saya yang satu ini. Dia saja tidak punya rumah. Masih tinggal di kontrakan. Tapi dia mengajak kami untuk membantu sepupu yang tengah membangun rumah. Dia saja belum naik haji. Ibu juga. Tapi ketika tahun ini kami ingin me-naik haji-kan Ibu, dia mengajak untuk patungan membiayai haji salah satu tante bareng-bareng dengan Ibu. Dia saja sering kesulitan finansial, tapi entah untuk keberapa kalinya dia mengajak kita patungan untuk memantu keluarga besar diluar lingkaran kecil kami ; orang tua dan adik kakak. Jujur saja, saya masih sulit menerima hal-hal seperti ini.

Lalu dia berkata “Et, selagi masih berada di bulan Qurban. Besok sudah Tahun Baru Hijriah”

“Ada perbedaan prinsip antara Qurban dengan sekedar berbuat baik. Berbuat baik adalah melakukan sesuatu yang menguntungkan/membahagiakan orang lain, tanpa merugikan diri kita sendiri, atau bahkan juga menciptakan keuntungan terhadap diri kita sendiri. Tapi ada yang lebih dahsyat daripada sekedar berbuat baik Et, yaitu Berqurban. Berqurban adalah melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kita sukai, dan itu bermanfaat bagi orang lain”.

“Berqurban itu pada prinsipnya ngga enak Et. Bahkan Ibrahim pun pasti merasa tidak nyaman ketika Tuhan memintanya mengorbankan anak kesayangannya Ismail. Tapi itulah esensi qurban Et.  Da Ad bahkan saat ini percaya, bahwa peristiwa Qurban hanyalah sebuah bentuk “gertakan” Tuhan untuk kita. Menguji keyakinan, keiklasan, keimanan kita. Dan kalau kita melakukannya, Tuhan akan membalasnya dengan “domba”.

Well. Semalam saya mencoba untuk “mengunyah” lamat-lamat omongan itu.  Ujung-ujungnya saya cuma mengumpati diri sendiri. Saya yang sering mengaku anti simbolitas, telah menjadi budak simbolitas itu sendiri.

Yah. Berbuat baik ternyata memang (seharusnya) mudah. Karena toh tidak ada yang dirugikan dari diri kita sendiri dengan berbuat baik. Ketika kita terbiasa berbuat baik, bahkan berbuat baik itu memberikan candu tersendiri, seperti tulisan Endah tentang beramal itu candu. Tapi berqurban? Hmmm… kita harus merelakan sesuatu yang sebenarnya kita tidak rela. Melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan, tapi bermanfaat bagi orang lain. Bahkan, saya fikir sah-sah saja ketika kita tidak ikhlas dalam berqurban. Wong kegiatan itu pada prinsipnya memang tidak nyaman kok. Hanya orang-orang yang sudah mampu mencapai maqom nya mungkin, yang bisa mendekatkan diri dengan keikhlasan ketika berqurban.

Pikiran saya pun berkenala kebanyak area. Tiba-tiba kepikiran peristiwa haji. Jika kembali mengingat peristiwa hidup Nabi Ibrahim, kok kayaknya itu mencerminkan proses dan alur dalam rukun Islam. Diawali dengan proses pencarian Tuhan  yang Ibrahim lakukan sampai dia mengakui kebesaran-Nya (syahadat), sampai ke peristiwa qurban dan peristiwa haji. Setelah kita mengucap keyakinan (Syahadat), menegakkan dan menjaga keyakinan tersebut dengan berkomunikasi dengan-Nya dan melakukan apa yang Dia perintahkan tanpa bertanya dan mempertanyakan (sholat), berempati dengan penderitaan orang lain meski kita sendiri tidak punya apa-apa (puasa), berqurban  dan berbagi ketika kita sudah memiliki sesuatu (zakat), sampai menjalankan perjalanan spiritual ketika kita mampu secara utuh (haji).Sebuah proses perjalanan hidup yang sempurna. Sebuah kombinasi seimbang antara hubungan vertikal dan horisontal. (btw, orang naik haji untuk siapa yah?…)

Menariknya lagi, sebuah perjalanan berqurban yang hakiki ternyata berujung pada “sama sekali tidak mengorbankan apa-apa, bahkan mendapatkan bonus yang luarbiasa”. Toh, dalam sejarah qurban, Tuhan tidak benar-benar mengambil Ismail, dan menganti nya dengan seekor domba. Dan itu hanya bisa diraih, jika kita benar-benar berqurban.

Tiba-tiba sebuah pertanyaan lahir dikepala saya.

Apakah yang sudah saya Qurban-kan tahun ini? Sebuah qurban yang sebenarnya, dan bukan disimbolisasikan dengan memotong kambing/domba?

Malam tadi, ketika kesadaran ini lahir, saya sudah berada di Tahun Baru Hijriah. Dan kesempatan untuk benar-benar berqurban ditahun lalu, telah lewat…

Popularity: 8% [?]

6 Responses to “Berqurban (berkorban) dan Berbuat Baik”

  1. hmm. tulisan ini membuat saya menyesal karena tidak berkurban tahun ini. :(

  2. > kakak saya memiliki argumen bahwa hari raya besar itu sebenarnya adalah Hari Raya Idul Adha, bukan Idul Fitri sebagaimana yang mayoritas dijadikan sebagai hari raya besar bagi umat Islam di Indonesia

    Org Madura udah memahami hal ini sejak dahulu kala, makanya Idul Adha (btw, kalo udah pake ‘idul’ gak perlu pake ‘hari raya’, krn ‘idul’ itu kurang lebih artinya ‘hari raya’) di Madura lebih rame daripada Idul Fitri. Budaya mudik bagi org Madura itu setahun 2x, masing2 untuk Idul Adha dan Idul Fitri. Sayang sekali, krn pengaruh media, org Madura perkotaan mulai melupakan hal ini. :(

    > ikut patungan untuk membeli kambing qurban

    Setauku, kurban bentuk kambing gak boleh patungan, harus sepenuhnya ditanggung 1 individu, Yg boleh patungan itu kalo kurban sapi, itupun maksimal 7 org (gak boleh sekampung). CMIIW.

    > orang naik haji untuk siapa yah?

    Maksudnya? Ibadah hajinya? apa kurban sewaktu haji? Anyway, manapun yg dipilih, itu tergantung niat. Soalnya baik haji maupun kurban, seseorang boleh melakukannya atas nama org lain. Misal, seorang ibu meninggal sebelum melaksanakan haji, maka anaknya bisa melaksanakan haji atas nama ibunya. Maka ibadah haji itu berlaku untuk ibunya walaupun anaknya yg melakukan segala prosesnya. CMIIW.

    > “sama sekali tidak mengorbankan apa-apa, bahkan mendapatkan bonus yang luarbiasa”

    Krn itu, sebenarnya kalo kita mampu, gak ada alasan untuk gak berkurban. Seperti sedekah, zakat, dlsb, pada hakekatnya kita tidak kehilangan apa2 krn sebenarnya yg kita berikan bukan milik kita, bahkan sudah merupakan hak penerima. Aku malah kurang sepakat kalo kita kurban atau sedekah atau zakat, tapi masih berharap menerima “bonus” dari Tuhan. Selain krn berasa gak ikhlas, kesannya kok ngelamak gitu ya? Udahlah yg dikeluarkan bukan milik kita, eh, masih ngarep bonus pula. :P Bisa kurban/sedekah/zakat (scr ikhlas) aja udah bagus, bonus gak perlu diarepin krn ada atau tidaknya bonus itu terserah yg Maha Memiliki. :)

  3. gak usah ngarepin bonus macem-macem ya bee, tapi yang namanya Tuhan itu emang bekerja dengan cara yang unik kok. orang berkurban kok malah dikasih bonus.

    makanya kita cukup berkurban, sisanya bukan urusan kita.

  4. Halo sobat, salam kenal dari frizzy.
    Happy New Year 2009.
    God bless you, may you have better life, better sex and better achievement.
    Mampir-mampir ya sob…

    Cheers, frizzy2008.

  5. terkadang memnag kita butuh waktu meski itu hanya sekedar memahami sesuatu dari orang lain

  6. Seandainya Anda diberi uang 100 juta oleh si A, kemudian saat itu juga si A pinjam uang ke Anda sebesar 2.5 juta dan si A berjanji akan mengembalikannya 7 kali lipatnya. Bagaimana menurut Anda?

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>